Reportase Sesi 1 Workshop “Dukungan bagi Kader CERDAS: Kajian Kebutuhan Penyampaian Edukasi dan Regenerasi Kader Kesehatan”
Sesi 1: Identifikasi Kebutuhan Penyampaian Materi Edukasi Kesehatan oleh Kader

Sabtu, 6 Juni 2026 — Tim Abdimas dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Gizi, Keperawatan, Pendidikan Kedokteran dan Bioetika Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Co-Design bersama Kader Lansia Desa Kuningan. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Kelas U.25 A–B Gedung Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Workshop ini menjadi ruang pertemuan antara tim akademik dan kader masyarakat untuk menggali pengalaman, kebutuhan, tantangan, serta bentuk dukungan yang diperlukan dalam penguatan edukasi kesehatan bagi lansia dan masyarakat Desa Kuningan. Sesi pertama workshop mengangkat tema “Identifikasi Kebutuhan Penyampaian Materi Edukasi Kesehatan oleh Kader”. Sesi ini difasilitasi oleh Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc. Ph.D., dengan dukungan co-fasilitator yaitu Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J, Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH, Dr. Fitrina M Kusumaningrum SKM., MPH dan Anindita Primasanti Sugito. Fokus utama sesi ini adalah menggali materi kesehatan yang selama ini telah disampaikan kader, kebutuhan materi yang dirasakan masih kurang, tantangan kader dalam memberikan edukasi, serta bentuk pelatihan yang paling membantu kader agar mampu menyampaikan informasi kesehatan secara lebih efektif kepada masyarakat.
Dalam proses diskusi, para kader dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk merefleksikan pengalaman mereka selama menjalankan peran sebagai penyampai informasi kesehatan di masyarakat. Diskusi dipandu melalui beberapa pertanyaan kunci, antara lain materi apa saja yang selama ini sering disampaikan kader, bagaimana cara kader menyampaikan edukasi, kelompok sasaran yang paling sering menerima edukasi, tantangan yang dihadapi, informasi kesehatan yang paling dibutuhkan masyarakat, keterampilan yang perlu dimiliki kader, serta topik edukasi utama yang perlu diprioritaskan. Setelah menyusun daftar prioritas materi edukasi, diskusi kemudian diarahkan untuk membedakan antara topik yang cukup diberikan sebagai informasi umum dan topik yang perlu disampaikan secara berulang. Pembedaan ini penting karena beberapa isu kesehatan, terutama yang berkaitan dengan perubahan perilaku, kepatuhan pengobatan, dan perawatan lansia sehari-hari, tidak cukup dipahami melalui satu kali penyuluhan. Kader menilai bahwa materi tertentu perlu terus diingatkan dalam berbagai kesempatan, baik melalui posyandu lansia, kunjungan rumah, pertemuan warga, maupun kegiatan masyarakat lainnya.
Materi Kesehatan yang Pernah Didapatkan Saat Menjadi Kader
Para kader terlebih dahulu diminta menceritakan materi kesehatan apa saja yang selama ini pernah mereka dapatkan selama menjalankan peran sebagai kader. Dari diskusi kelompok, terlihat bahwa kader sudah pernah memperoleh cukup banyak materi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan lansia, gizi seimbang, menu sehat lansia, penyakit tidak menular, hipertensi, diabetes, kesehatan jantung dan pembuluh darah, stroke, asam urat, demensia, kesehatan gigi dan mulut, TBC, DBD, THT, kesehatan saluran kencing, serta pencegahan stunting. Selain materi penyakit, beberapa kader juga menyebutkan topik yang lebih luas, seperti PHBS, pemilahan sampah, bank sampah, pengelolaan emosi, caregiver lansia, dukungan keluarga, kemandirian lansia, kunjungan lansia tirah baring, serta kesehatan ibu hamil dan balita. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman kader dalam menerima materi edukasi cukup beragam dan tidak hanya terbatas pada isu medis, tetapi juga mencakup promosi kesehatan, dukungan sosial, dan pendampingan masyarakat.
Materi yang Seharusnya Diberikan tetapi Belum Banyak Disampaikan
Setelah memetakan materi yang sudah pernah diterima, kader kemudian diminta mengidentifikasi materi apa saja yang menurut mereka penting, tetapi belum banyak diberikan kepada masyarakat. Dalam diskusi, kader menyoroti beberapa topik yang masih dibutuhkan, seperti penyakit gagal ginjal, penyakit paru, TBC, dampak rokok, asam lambung, kesehatan jiwa, stres, kecemasan, gangguan tidur, serta cara mengenali gejala penyakit sejak dini. Kader menilai bahwa kemampuan mengenali gejala awal sangat penting karena masih ada kekhawatiran bahwa masyarakat baru mencari pertolongan ketika kondisi penyakit sudah berat. Selain itu, kader juga mengidentifikasi kebutuhan edukasi mengenai BPJS, kesadaran minum obat dan kontrol rutin, akses alat bantu bagi lansia yang sakit, cara berkomunikasi dengan lansia, pertolongan pertama pada kasus stroke, perawatan lansia tirah baring, penanganan luka, nyeri lutut, asam urat, serta pendampingan lansia yang hidup sendiri. Masukan ini menunjukkan bahwa kebutuhan edukasi tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga akses layanan, kepatuhan pengobatan, perawatan harian, dan dukungan keluarga.
Prioritas Materi yang Perlu Disampaikan kepada Masyarakat Desa Kuningan
Para kader kemudian diminta menyusun prioritas materi yang paling penting untuk disampaikan kepada masyarakat Desa Kuningan. Dari diskusi kelompok, beberapa topik muncul sebagai perhatian utama, antara lain komunikasi dan layanan bagi lansia, kecemasan pada lansia, gangguan tidur, gizi lansia, dukungan keluarga, pengenalan gejala penyakit, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, TBC, BPJS, dan kesadaran minum obat. Selain itu, kader juga menilai pentingnya pembekalan caregiver, perawatan lansia tirah baring, perawatan luka, kesehatan jiwa, bahaya merokok, pencegahan penyakit tidak menular, pertolongan pertama pada stroke, serta strategi mengajak bapak-bapak agar lebih aktif mengikuti posyandu lansia. Prioritas ini memperlihatkan bahwa kebutuhan edukasi masyarakat bersifat luas. Edukasi tidak hanya perlu menjelaskan penyakit, tetapi juga perlu membantu masyarakat memahami perilaku sehat, akses layanan, dukungan keluarga, dan cara mendampingi lansia dalam kehidupan sehari-hari.

Materi yang Perlu Diulang Secara Berkala
Para kader juga diminta mengidentifikasi materi-materi yang menurut mereka tidak cukup disampaikan hanya satu kali kepada masyarakat. Dalam diskusi, para kader menyadari bahwa edukasi kesehatan sering kali membutuhkan proses yang panjang. Masyarakat belum tentu langsung memahami, mengingat, atau mengubah perilaku setelah mendapatkan satu kali penyuluhan. Apalagi, banyak topik kesehatan lansia berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, kepatuhan minum obat, kesediaan kontrol rutin, pola makan, kebiasaan merokok, serta cara keluarga mendampingi lansia di rumah. Beberapa materi yang dinilai perlu terus diulang antara lain demensia, gangguan tidur, kecemasan pada lansia, komunikasi pelayanan untuk lansia, kemandirian lansia, gizi, TB, caregiver, kesadaran minum obat, pencegahan penularan TBC, bahaya merokok, serta kesehatan jantung dan paru. Kader juga menekankan pentingnya pengulangan materi mengenai pencegahan penyakit tidak menular, penanganan luka pada lansia tirah baring atau pasien diabetes, pendampingan lansia yang tinggal sendiri, dan ajakan kepada bapak-bapak untuk mengikuti posyandu lansia. Pengulangan materi ini dipandang penting agar pesan kesehatan tidak hanya didengar, tetapi juga diingat dan perlahan diterapkan oleh masyarakat.
Bentuk Pelatihan yang Paling Membantu Kader dalam Menyampaikan Edukasi
Pada bagian akhir sesi, kader diminta mengidentifikasi bentuk pelatihan yang paling membantu mereka dalam menyampaikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Para kader menyampaikan bahwa pelatihan yang dibutuhkan tidak hanya berupa penambahan pengetahuan tentang penyakit, tetapi juga keterampilan praktis dalam menyampaikan pesan kesehatan secara jelas, menarik, dan mudah diterima. Beberapa kebutuhan pelatihan yang muncul antara lain cara menyampaikan materi agar diterima masyarakat, cara membuat materi menarik untuk lansia, latihan public speaking, cara mengatasi rasa gugup, serta cara memberikan edukasi tanpa terkesan menggurui. Selain itu, kader juga membutuhkan pelatihan penggunaan alat bantu seperti poster dan leaflet, komunikasi personal saat kunjungan rumah, praktik pertolongan pertama, bantuan hidup dasar, perawatan luka pasien diabetes, dan praktik menggunakan alat secara langsung. Beberapa kelompok juga mengusulkan materi dalam bentuk video agar dapat ditonton ulang, pengadaan poster, serta pelibatan bapak-bapak dalam pelatihan kesehatan. Masukan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kader perlu dirancang secara praktis dan kontekstual. Pelatihan yang ideal tidak hanya memberi teori, tetapi juga menyediakan ruang praktik, simulasi, diskusi pengalaman, penggunaan media edukasi, dan umpan balik agar kader lebih percaya diri dalam mendampingi masyarakat.
Penutup
Sesi pertama workshop ini memperlihatkan bahwa kader lansia Desa Kuningan memiliki pengalaman yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam diskusi, para kader tidak hanya menyampaikan daftar materi kesehatan yang pernah mereka terima, tetapi juga menceritakan situasi nyata yang mereka hadapi saat mendampingi lansia dan keluarga. Banyak isu yang muncul merupakan persoalan sehari-hari, seperti sulitnya mengingatkan lansia untuk kontrol rutin, kebiasaan merokok yang sulit diubah, kecemasan dan gangguan tidur pada lansia, hingga tantangan merawat lansia yang tirah baring atau tinggal sendiri. Dari sesi ini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan edukasi kesehatan bagi masyarakat Desa Kuningan tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga pada cara merawat, berkomunikasi, dan mendampingi lansia dalam kehidupan sehari-hari. Topik seperti hipertensi, diabetes, stroke, TBC, gizi, BPJS, kesehatan jiwa, demensia, kepatuhan minum obat, dan perawatan lansia tirah baring menjadi kebutuhan penting yang perlu ditindaklanjuti dalam pengembangan materi edukasi. Kesimpulan penting lainnya adalah bahwa kader membutuhkan dukungan yang lebih praktis. Mereka tidak hanya memerlukan tambahan pengetahuan, tetapi juga keterampilan untuk menyampaikan materi dengan cara yang menarik, tidak menggurui, dan mudah diterima masyarakat. Pelatihan public speaking, penggunaan media edukasi, komunikasi saat kunjungan rumah, pertolongan pertama, serta perawatan luka menjadi kebutuhan yang dianggap relevan dengan tugas kader di lapangan. Dengan demikian, hasil sesi ini menjadi dasar penting untuk menyusun materi, media, dan pelatihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kader dan masyarakat. Kader perlu diposisikan bukan sekadar sebagai penerima pelatihan, tetapi sebagai mitra yang memahami kondisi sosial masyarakat. Melalui penguatan kapasitas yang tepat, kader diharapkan dapat semakin percaya diri dalam memberikan edukasi kesehatan dan menjadi pendamping yang lebih kuat bagi lansia di Desa Kuningan. Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penguatan promosi kesehatan, pencegahan penyakit, kepatuhan pengobatan, dan perawatan lansia berbasis masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung Tujuan 4, Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan praktis, dan kesempatan belajar berkelanjutan bagi kader dalam menjalankan perannya sebagai edukator kesehatan. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap Tujuan 10, Berkurangnya Kesenjangan, dengan mendorong tersedianya edukasi dan pendampingan kesehatan yang lebih inklusif serta sesuai dengan kebutuhan lansia, termasuk mereka yang tirah baring, tinggal sendiri, atau memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.
Reporter:
Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM
Jihan Muna Syahidah











Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!