Episode BreaK Sebelumnya

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #2 “Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif?”

Yogyakarta – Departemen/Prodi di lingkungan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali menyelenggarakan Webinar Seri Pendanaan Kesehatan di Indonesia, sebuah rangkaian diskusi akademik yang bertujuan memperkuat pemahaman publik, akademisi, dan pemangku kebijakan mengenai dinamika pembiayaan kesehatan nasional. Webinar Seri ke-6 yang diselenggarakan pada Kamis (6/11) ini mengangkat tema “Skenario dan Besaran Dana Kesehatan”, menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD sebagai narasumber utama dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Pendahuluan: Urgensi Pembahasan Pendanaan Kesehatan Nasional

Dalam konteks sistem kesehatan nasional, pendanaan merupakan komponen kunci yang menentukan keberlangsungan penyediaan layanan kesehatan yang efektif, merata, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan seri webinar ini merupakan bagian dari upaya FK-KMK UGM untuk mengedukasi serta membangun diskursus akademik mengenai kompleksitas mekanisme pembiayaan kesehatan di Indonesia. Melalui berbagai sesi, peserta diharapkan memperoleh pemahaman mendalam mengenai kondisi empiris, tantangan struktural, serta peluang perbaikan kebijakan di masa depan.

Analisis Historis: Perkembangan Industri Rumah Sakit dan Ekosistem Pembiayaan

Dalam pemaparannya, Prof. Laksono menekankan bahwa analisis pendanaan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan industri rumah sakit (RS) sebagai lokomotif sistem kesehatan. RS dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan sektor-sektor lain seperti farmasi, alat kesehatan, dan layanan penunjang medis.

Beliau menyoroti peningkatan pesat RS swasta dan jejaring rumah sakit (chain hospitals) di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Namun, di tingkat regional Asia Tenggara, Malaysia dan Thailand dinilai lebih agresif dalam pengembangan industri RS, yang dibuktikan dengan keberhasilan mereka menarik pasien dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain itu, isu klasik seperti kekurangan dokter dan distribusi tenaga medis yang belum merata menjadi hambatan besar dalam meningkatkan kapasitas sistem kesehatan nasional. Kondisi ini menimbulkan implikasi serius terhadap kemampuan RS dalam menyediakan layanan berkualitas dan berkelanjutan.

Situasi Pendanaan: Kondisi Terkini dan Perbandingan Regional

Prof. Laksono memaparkan dinamika pendanaan kesehatan Indonesia hingga tahun 2023 dengan membandingkannya terhadap negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand.

  1. Pendanaan Publik dan Private Health Insurance

    Asuransi kesehatan swasta di Indonesia mengalami stagnasi dan hanya berkontribusi sekitar 4% dari total pendanaan. Sementara itu, negara seperti Thailand menunjukkan pertumbuhan signifikan pada asuransi swasta karena peningkatan permintaan layanan setelah implementasi Universal Health Coverage (UHC). Ketika UHC diterapkan di Thailand, utilisasi layanan meningkat drastis namun kapasitas provider tidak bertambah signifikan. Kondisi ini mendorong masyarakat kelas menengah untuk membeli asuransi kesehatan swasta guna mengakses layanan tanpa antre panjang. Fenomena ini tidak terjadi di Indonesia karena struktur pembiayaan yang berbeda.

  2. Krisis Defisit BPJS Kesehatan

    Salah satu isu yang paling disoroti adalah defisit BPJS Kesehatan yang terus berulang. Dana PBI APBN bahkan kerap digunakan untuk menutup defisit segmen PBPU akibat terjadinya adverse selection. Klaim rasio PBPU tercatat sangat tinggi, bahkan mencapai 552% pada tahun 2014, dan meskipun menurun saat pandemi, angka klaim kembali meningkat beberapa tahun setelahnya.

  3. Out-of-Pocket (OOP) dan Perlindungan Finansial

    Indonesia masih menghadapi tantangan OOP yang tinggi. Hal ini menandakan bahwa perlindungan finansial belum optimal, dan masyarakat masih harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memperoleh layanan kesehatan yang sesuai kebutuhan. Berbeda dengan Thailand yang memiliki tiga pool pembiayaan UHC dengan cakupan hampir penuh oleh pemerintah.

  4. Kapasitas Fiskal dan Alokasi Anggaran
  5. Anggaran preventif dan program layanan primer Kemenkes sering kali tidak terserap secara maksimal. Di sisi lain, RS swasta tipe A dan B dilaporkan mengalami tekanan finansial akibat tarif klaim yang lebih rendah dari biaya operasional, sehingga tarif layanan non-BPJS mengalami peningkatan dan membebani masyarakat.

Skenario Pendanaan Masa Depan: Analisis Strategis

Prof. Laksono memaparkan pendekatan analisis skenario untuk memetakan kemungkinan perkembangan pendanaan kesehatan Indonesia pada masa mendatang. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana variasi kebijakan, kapasitas fiskal, serta dinamika sosial-ekonomi dapat membentuk arah sistem pembiayaan.

Beberapa sumber pendanaan utama yang dianalisis meliputi:

  • Pendanaan pemerintah (PBI APBN/APBD)
  • Kontribusi peserta PBPU dan PPU
  • Filantropi dan CSR
  • Private Health Insurance
  • Out-of-pocket masyarakat

Dari analisis tersebut, Prof. Laksono menegaskan bahwa Indonesia perlu mengupayakan transisi ke skenario terbaik (Skenario A) dengan memperkuat diversifikasi pendanaan, meningkatkan cakupan efektif UHC, serta mendorong masyarakat mampu untuk memanfaatkan asuransi kesehatan swasta.

Diskusi: Isu Strategis dan Rekomendasi Kebijakan

Sesi diskusi memperlihatkan tingginya antusiasme peserta untuk memahami isu pendanaan kesehatan dari

berbagai perspektif. Beberapa isu strategis yang banyak dibahas antara lain:

  1. Perhitungan Total Health Expenditure
  2. Peserta mempertanyakan mengapa proporsi pengeluaran kesehatan Indonesia terhadap GDP tetap rendah, meskipun pengeluaran kesehatan meningkat. Prof. Laksono menjelaskan bahwa kontribusi pendanaan swasta Indonesia tidak berkembang seperti di Thailand, sehingga total pembiayaan tetap stagnan.

  3. Efektivitas UHC dan Dampak pada Daerah
  4. Beberapa peserta menyoroti dampak pencapaian UHC 100% terhadap anggaran daerah, khususnya alokasi dana transfer untuk PBI. Prof. Laksono menekankan perlunya reformulasi UHC dengan focus pada effective coverage, bukan hanya pencapaian administratif.

  5. Skema Pengampuan RS dan Pembiayaan Layanan Spesialistik
  6. Pertanyaan mengenai pelaksanaan RS pengampuan, KJSU, dan pembiayaan residen disampaikan peserta yang bekerja di daerah. Hambatan pembiayaan disebut menjadi salah satu kendala utama dalam implementasi program-program tersebut.

  7. Pendanaan Alternatif melalui CSR dan Pajak Kesehatan
  8. Peserta juga menyoroti peluang pemanfaatan CSR, filantropi, dan pajak kesehatan sebagai sumber pendanaan tambahan. Namun, Prof. Laksono menilai bahwa kontribusi skema ini belum cukup besar untuk menopang kebutuhan sistem kesehatan secara nasional.

Penutup: Kolaborasi untuk Skenario Terbaik

Webinar Seri ke-6 ini mempertegas pentingnya inovasi kebijakan dan kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pendanaan kesehatan yang berkelanjutan. Prof. Laksono menutup sesi dengan menekankan bahwa keberhasilan reformasi pendanaan tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga pada peran pemimpin kesehatan di daerah, RS, akademisi, dan masyarakat. “Pendanaan kesehatan hari ini adalah konsekuensi dari kebijakan masa lalu. Kita tidak boleh pasrah pada skenario terburuk. Dengan kerja bersama, kita dapat mengarahkan sistem kesehatan Indonesia menuju skenario terbaik yang lebih adil dan berkelanjutan,” tegasnya. Webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam memperkuat kapasitas akademik dan kebijakan kesehatan nasional. Seluruh rangkaian materi Webinar Seri Pendanaan Kesehatan akan tersedia pada platform pembelajaran daring guna memperluas manfaat bagi publik dan pemangku kepentingan kesehatan.

Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa perjalanan Indonesia menuju UHC yang adil dan berkelanjutan masih penuh tantangan, baik dari sisi pendanaan maupun pemerataan layanan. Namun, dengan pembelajaran dari pengalaman internasional serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, terdapat peluang besar untuk memperkuat sistem pembiayaan kesehatan Indonesia ke depan.

Reporter: Aninditya, Fadliana, Sagena (Department of Health Policy and Management, FK KMK UGM)

Universitas Gadjah Mada (UGM) participated in a series of DISCERN-DSS activities hosted by Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) from September to October 2025. The activities included training sessions, a social dinner, and a project meeting, bringing together Indonesian and European partners to strengthen collaboration in digital health education.

The activities were part of DISCERN-DSS, an Erasmus+ Capacity Building in Higher Education project that supports the development of digital soft skills through co-creative practices and Digital Scenario-Based Learning (D-SBL). Through this project, partner institutions work together to design learning approaches that are relevant to the needs of future health professionals in digitally transformed healthcare systems.

UGM joined the program alongside other Indonesian partner universities, including Universitas Sebelas Maret (UNS) and UMY. European partner institutions also contributed to the activities by sharing knowledge and experience in medical education, digital learning, scenario-based learning, assessment, and professional development.

The training sessions focused on strengthening participants’ understanding of D-SBL and its application in health professions education. Participants discussed how learning scenarios can be developed, aligned with learning outcomes, and used to support the development of digital soft skills such as communication, collaboration, ethical reasoning, adaptability, professionalism, and critical decision-making.

For UGM, the training provided valuable insights into how digital soft skills can be integrated into curriculum and learning activities. As healthcare services increasingly depend on digital systems, students need to be prepared to navigate digital health environments responsibly, ethically, and collaboratively.

In addition to the training, the social dinner provided an important informal space for partners to build stronger relationships. This interaction allowed participants from Indonesia and Europe to exchange experiences, strengthen trust, and develop a shared sense of ownership in the project.

The project meeting also played a key role in ensuring that academic activities were aligned with project implementation. Partners discussed coordination, upcoming work plans, reporting needs, financial and administrative matters, and the next stages of DISCERN-DSS activities.

UGM’s participation in these activities reflected its active role in supporting both the academic and collaborative dimensions of the project. The combination of training, informal networking, and structured project coordination helped strengthen the foundation for future work, including local training, scenario co-creation, review, and the development of D-SBL resources.

Through its involvement in the DISCERN-DSS activities at UMY, UGM continues to contribute to international collaboration in health education innovation. The project is expected to support the preparation of future health professionals who are digitally competent, ethical, adaptive, collaborative, and ready to respond to the evolving demands of modern healthcare.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hosted the DISCERN-DSS training in September–October 2025, bringing together Indonesian and European partner institutions for a series of academic, collaborative, and project coordination activities. The event became an important moment to strengthen international collaboration in advancing digital soft skills education for health professions.

DISCERN-DSS, or Digitally enhanced SCenario basEd leaRNing for Digital Soft Skills, is an Erasmus+ Capacity Building in Higher Education project involving partners from Indonesia and Europe. The project aims to improve digital health education by supporting the development of Digital Scenario-Based Learning (D-SBL) resources, strengthening educators’ capacity, and promoting co-creative learning innovation.

The training at UMY focused on introducing participants to the principles and practices of D-SBL. Through interactive sessions, participants explored how digital scenarios can be designed to support active, reflective, and problem-based learning. The training also highlighted the importance of integrating digital soft skills into health education, including communication, collaboration, ethical reasoning, adaptability, professionalism, and critical decision-making.

Participants from UGM, UNS, and UMY joined the activity alongside European partners from Aristotle University of Thessaloniki, Karolinska Institutet, and the European Union of Medical Specialists. The sessions provided opportunities for knowledge exchange between institutions, combining international expertise in digital learning and medical education with local understanding of Indonesian curriculum needs.

In addition to formal training, the activity included co-creation sessions where participants began discussing ideas for future D-SBL resources. These sessions encouraged educators, technologists, and content experts to work together in designing learning scenarios that are relevant, practical, and aligned with the needs of health professions education in Indonesia.

The social dinner became an important part of the event, offering an informal space for participants to build relationships beyond the training room. Through this setting, partners were able to exchange experiences, strengthen trust, and foster a more collaborative atmosphere for the next stages of the project.

Project and finance meetings were also conducted during the activity to support coordination across partner institutions. These meetings helped align academic planning with project management, reporting requirements, budget coordination, and preparation for upcoming activities, including local training and scenario development.

By hosting the DISCERN-DSS training, social dinner, and project meeting, UMY played a key role in creating a productive collaborative space for the consortium. The activity reinforced the project’s commitment to building strong partnerships, developing high-quality D-SBL resources, and preparing Indonesian health education institutions for digital transformation.