Entries by hanifah.wulandari

, ,

Reportase Seri Webinar: Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Dulu, Sekarang, dan Prediksi Masa Depan

📢 Seri Webinar: Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Dulu, Sekarang, dan Prediksi Masa Depan
🎓 Diselenggarakan oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FK-KMK UGM
🔎 Mari bersama memahami perjalanan pendanaan kesehatan di Indonesia, tren global, serta prediksi masa depan untuk mendukung sistem kesehatan yang berkelanjutan

📅 Periode Pelaksanaan: September – Oktober 2025
📍 Online via Zoom

🎙Narasumber:
Dosen & Peneliti dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM (bekerjasama dengan Pakar-pakar Pendanaan Kesehatan di tingkat Asia maupun internasional)

Seri Webinar Pendanaan Kesehatan di Indonesia Dulu, Sekarang, dan Masa Depan Seri 6: Skenario dan Besaran Dana Kesehatan

Yogyakarta – Departemen/Prodi di lingkungan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali menyelenggarakan Webinar Seri Pendanaan Kesehatan di Indonesia, sebuah rangkaian diskusi akademik yang bertujuan memperkuat pemahaman publik, akademisi, dan pemangku kebijakan mengenai dinamika pembiayaan kesehatan nasional. Webinar Seri ke-6 yang diselenggarakan pada Kamis (6/11) ini mengangkat tema “Skenario dan Besaran Dana Kesehatan”, menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD sebagai narasumber utama dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Pendahuluan: Urgensi Pembahasan Pendanaan Kesehatan Nasional

Dalam konteks sistem kesehatan nasional, pendanaan merupakan komponen kunci yang menentukan keberlangsungan penyediaan layanan kesehatan yang efektif, merata, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan seri webinar ini merupakan bagian dari upaya FK-KMK UGM untuk mengedukasi serta membangun diskursus akademik mengenai kompleksitas mekanisme pembiayaan kesehatan di Indonesia. Melalui berbagai sesi, peserta diharapkan memperoleh pemahaman mendalam mengenai kondisi empiris, tantangan struktural, serta peluang perbaikan kebijakan di masa depan.

Analisis Historis: Perkembangan Industri Rumah Sakit dan Ekosistem Pembiayaan

Dalam pemaparannya, Prof. Laksono menekankan bahwa analisis pendanaan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan industri rumah sakit (RS) sebagai lokomotif sistem kesehatan. RS dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan sektor-sektor lain seperti farmasi, alat kesehatan, dan layanan penunjang medis.

Beliau menyoroti peningkatan pesat RS swasta dan jejaring rumah sakit (chain hospitals) di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Namun, di tingkat regional Asia Tenggara, Malaysia dan Thailand dinilai lebih agresif dalam pengembangan industri RS, yang dibuktikan dengan keberhasilan mereka menarik pasien dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain itu, isu klasik seperti kekurangan dokter dan distribusi tenaga medis yang belum merata menjadi hambatan besar dalam meningkatkan kapasitas sistem kesehatan nasional. Kondisi ini menimbulkan implikasi serius terhadap kemampuan RS dalam menyediakan layanan berkualitas dan berkelanjutan.

Situasi Pendanaan: Kondisi Terkini dan Perbandingan Regional

Prof. Laksono memaparkan dinamika pendanaan kesehatan Indonesia hingga tahun 2023 dengan membandingkannya terhadap negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand.

  1. Pendanaan Publik dan Private Health Insurance

    Asuransi kesehatan swasta di Indonesia mengalami stagnasi dan hanya berkontribusi sekitar 4% dari total pendanaan. Sementara itu, negara seperti Thailand menunjukkan pertumbuhan signifikan pada asuransi swasta karena peningkatan permintaan layanan setelah implementasi Universal Health Coverage (UHC). Ketika UHC diterapkan di Thailand, utilisasi layanan meningkat drastis namun kapasitas provider tidak bertambah signifikan. Kondisi ini mendorong masyarakat kelas menengah untuk membeli asuransi kesehatan swasta guna mengakses layanan tanpa antre panjang. Fenomena ini tidak terjadi di Indonesia karena struktur pembiayaan yang berbeda.

  2. Krisis Defisit BPJS Kesehatan

    Salah satu isu yang paling disoroti adalah defisit BPJS Kesehatan yang terus berulang. Dana PBI APBN bahkan kerap digunakan untuk menutup defisit segmen PBPU akibat terjadinya adverse selection. Klaim rasio PBPU tercatat sangat tinggi, bahkan mencapai 552% pada tahun 2014, dan meskipun menurun saat pandemi, angka klaim kembali meningkat beberapa tahun setelahnya.

  3. Out-of-Pocket (OOP) dan Perlindungan Finansial

    Indonesia masih menghadapi tantangan OOP yang tinggi. Hal ini menandakan bahwa perlindungan finansial belum optimal, dan masyarakat masih harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memperoleh layanan kesehatan yang sesuai kebutuhan. Berbeda dengan Thailand yang memiliki tiga pool pembiayaan UHC dengan cakupan hampir penuh oleh pemerintah.

  4. Kapasitas Fiskal dan Alokasi Anggaran
  5. Anggaran preventif dan program layanan primer Kemenkes sering kali tidak terserap secara maksimal. Di sisi lain, RS swasta tipe A dan B dilaporkan mengalami tekanan finansial akibat tarif klaim yang lebih rendah dari biaya operasional, sehingga tarif layanan non-BPJS mengalami peningkatan dan membebani masyarakat.

Skenario Pendanaan Masa Depan: Analisis Strategis

Prof. Laksono memaparkan pendekatan analisis skenario untuk memetakan kemungkinan perkembangan pendanaan kesehatan Indonesia pada masa mendatang. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana variasi kebijakan, kapasitas fiskal, serta dinamika sosial-ekonomi dapat membentuk arah sistem pembiayaan.

Beberapa sumber pendanaan utama yang dianalisis meliputi:

  • Pendanaan pemerintah (PBI APBN/APBD)
  • Kontribusi peserta PBPU dan PPU
  • Filantropi dan CSR
  • Private Health Insurance
  • Out-of-pocket masyarakat

Dari analisis tersebut, Prof. Laksono menegaskan bahwa Indonesia perlu mengupayakan transisi ke skenario terbaik (Skenario A) dengan memperkuat diversifikasi pendanaan, meningkatkan cakupan efektif UHC, serta mendorong masyarakat mampu untuk memanfaatkan asuransi kesehatan swasta.

Diskusi: Isu Strategis dan Rekomendasi Kebijakan

Sesi diskusi memperlihatkan tingginya antusiasme peserta untuk memahami isu pendanaan kesehatan dari

berbagai perspektif. Beberapa isu strategis yang banyak dibahas antara lain:

  1. Perhitungan Total Health Expenditure
  2. Peserta mempertanyakan mengapa proporsi pengeluaran kesehatan Indonesia terhadap GDP tetap rendah, meskipun pengeluaran kesehatan meningkat. Prof. Laksono menjelaskan bahwa kontribusi pendanaan swasta Indonesia tidak berkembang seperti di Thailand, sehingga total pembiayaan tetap stagnan.

  3. Efektivitas UHC dan Dampak pada Daerah
  4. Beberapa peserta menyoroti dampak pencapaian UHC 100% terhadap anggaran daerah, khususnya alokasi dana transfer untuk PBI. Prof. Laksono menekankan perlunya reformulasi UHC dengan focus pada effective coverage, bukan hanya pencapaian administratif.

  5. Skema Pengampuan RS dan Pembiayaan Layanan Spesialistik
  6. Pertanyaan mengenai pelaksanaan RS pengampuan, KJSU, dan pembiayaan residen disampaikan peserta yang bekerja di daerah. Hambatan pembiayaan disebut menjadi salah satu kendala utama dalam implementasi program-program tersebut.

  7. Pendanaan Alternatif melalui CSR dan Pajak Kesehatan
  8. Peserta juga menyoroti peluang pemanfaatan CSR, filantropi, dan pajak kesehatan sebagai sumber pendanaan tambahan. Namun, Prof. Laksono menilai bahwa kontribusi skema ini belum cukup besar untuk menopang kebutuhan sistem kesehatan secara nasional.

Penutup: Kolaborasi untuk Skenario Terbaik

Webinar Seri ke-6 ini mempertegas pentingnya inovasi kebijakan dan kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pendanaan kesehatan yang berkelanjutan. Prof. Laksono menutup sesi dengan menekankan bahwa keberhasilan reformasi pendanaan tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga pada peran pemimpin kesehatan di daerah, RS, akademisi, dan masyarakat. “Pendanaan kesehatan hari ini adalah konsekuensi dari kebijakan masa lalu. Kita tidak boleh pasrah pada skenario terburuk. Dengan kerja bersama, kita dapat mengarahkan sistem kesehatan Indonesia menuju skenario terbaik yang lebih adil dan berkelanjutan,” tegasnya. Webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam memperkuat kapasitas akademik dan kebijakan kesehatan nasional. Seluruh rangkaian materi Webinar Seri Pendanaan Kesehatan akan tersedia pada platform pembelajaran daring guna memperluas manfaat bagi publik dan pemangku kepentingan kesehatan.

Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa perjalanan Indonesia menuju UHC yang adil dan berkelanjutan masih penuh tantangan, baik dari sisi pendanaan maupun pemerataan layanan. Namun, dengan pembelajaran dari pengalaman internasional serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, terdapat peluang besar untuk memperkuat sistem pembiayaan kesehatan Indonesia ke depan.

Reporter: Aninditya, Fadliana, Sagena (Department of Health Policy and Management, FK KMK UGM)

,

Reportase Workshop “District Team Problem Solving (DTPS)”

Reportase Workshop “District Team Problem Solving (DTPS)"

Magister Kebijakan dan Manajemen Kesehatan TA 2024/2025 FKKMK UGM

Senin 22 September s/d Rabu 24 September 2025

Program Magister Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (MKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) menyelenggarakan Workshop “District Team Problem Solving (DTPS)” pada Senin–Rabu, 22–24 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta, khususnya mahasiswa dan pemangku kepentingan di sektor kesehatan daerah, dalam merumuskan dan memecahkan permasalahan kesehatan secara sistematis dan berbasis bukti. Penguatan keterampilan pemecahan masalah ini menjadi krusial untuk mendukung pengambilan keputusan yang efektif, efisien, dan tepat sasaran, sejalan dengan komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai tahapan dalam proses pemecahan masalah menggunakan pendekatan DTPS. Mereka dilatih untuk mengidentifikasi ruang lingkup dan jenis permasalahan yang dihadapi di tingkat daerah, serta menganalisisnya dari berbagai perspektif lintas seksi kedinasan. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk merumuskan masalah secara tepat dan mengembangkan indikator yang relevan, yang kemudian digunakan dalam analisis situasi berbasis data. Tahapan ini penting untuk memastikan kebijakan dan program yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan dan berkontribusi pada pencapaian SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan dalam akses layanan kesehatan.

Workshop ini juga membekali peserta dengan keterampilan teknis yang lebih aplikatif. Peserta diajak untuk merumuskan beberapa opsi solusi yang dapat mengatasi permasalahan yang telah diidentifikasi, kemudian menilai secara kritis kelebihan dan kelemahan masing-masing opsi tersebut. Proses ini dilakukan melalui metode penilaian skor untuk memudahkan perbandingan kinerja tiap opsi secara objektif. Selanjutnya, peserta dilatih untuk menyusun desain implementasi secara rinci, termasuk menetapkan tahapan pelaksanaan, jadwal, pihak yang bertanggung jawab, serta sumber daya yang dibutuhkan. Sesi ini juga menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan potensi kegagalan implementasi agar solusi yang dipilih dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak yang diharapkan. Sebagai bagian dari penguatan kapasitas manajerial, peserta diperkenalkan pada penggunaan ProjectLibre, sebuah perangkat lunak yang membantu dalam perencanaan dan pengelolaan anggaran program. Dengan pemahaman ini, peserta dapat merancang pembiayaan program secara lebih realistis, transparan, dan efisien sesuai dengan sumber daya yang tersedia di tingkat daerah. Penerapan ProjectLibre juga mendukung tata kelola yang akuntabel dan mendorong penggunaan dana publik secara optimal. Pendekatan yang menitikberatkan pada perencanaan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor ini sejalan dengan semangat SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Workshop ditutup dengan sesi presentasi Executive Summary Proposed Program oleh setiap kelompok peserta. Dokumen ringkas ini memuat hasil analisis masalah, opsi solusi yang dipilih, rencana implementasi, dan perencanaan anggaran yang telah dirumuskan selama proses workshop. Fasilitator memberikan masukan, arahan, dan rekomendasi untuk penyempurnaan rancangan program agar lebih kontekstual, realistis, dan dapat diterapkan secara efektif di lapangan. Sesi evaluasi dan umpan balik menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis permasalahan nyata yang dihadapi pemerintah daerah sebagai sarana untuk memperkuat kapasitas perencanaan dan pengambilan keputusan.

Melalui penyelenggaraan Workshop DTPS ini, Magister Kebijakan dan Manajemen Kesehatan TA 2024/2025 FKKMK UGM menegaskan komitmennya untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki keterampilan analitis, manajerial, dan kolaboratif dalam tata kelola kesehatan daerah. Workshop ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi para peserta untuk mengintegrasikan hasil pembelajaran ke dalam praktik nyata, sehingga mereka mampu merancang kebijakan dan program kesehatan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di tingkat daerah, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap percepatan pencapaian target-target SDGs, khususnya dalam memperkuat sistem kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Reportase Seri Webinar Pendanaan Kesehatan di Indonesia Dulu, Sekarang, dan Masa Depan Sesi 2: Kajian Situasi Mengenai Health Financing Internasional

Seri Webinar

Pendanaan Kesehatan di Indonesia Dulu, Sekarang, dan Masa Depan

Sesi 2: Kajian Situasi Mengenai Health Financing Internasional

Narasumber: 

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Kes., Ph.D

Prof. Peter Berman MSc, PhD

Webinar kali ini menghadirkan diskusi mendalam mengenai tantangan ekonomi global pasca COVID-19 dan dampaknya terhadap sistem kesehatan, khususnya di Indonesia. Para narasumber menyoroti bagaimana krisis ekonomi, meningkatnya utang negara, serta perlambatan perdagangan dunia memberi tekanan besar pada upaya pencapaian Universal Health Coverage (UHC).

Tantangan Global dan Relevansi bagi Indonesia

Prof Peter menekankan bahwa banyak negara, termasuk yang berpendapatan tinggi, masih kesulitan mempertahankan UHC. Indonesia sendiri menghadapi beban besar dengan skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang ambisius, namun terbentur keterbatasan fiskal dan isu pemerataan layanan.

Pembiayaan BPJS dan Risiko Defisit

Salah satu isu utama adalah tantangan BPJS Kesehatan dalam menyeimbangkan penerimaan dan pengeluaran. Ekspansi layanan tingkat lanjut berpotensi memperbesar defisit, sementara sistem kapitasi yang ada dinilai belum menutup biaya layanan primer secara memadai. Kompleksitas struktur pendanaan kesehatan yang melibatkan berbagai kanal pemerintah juga menjadi perhatian.

Ketimpangan Akses Layanan

Laksono menyoroti kesenjangan antara wilayah Jawa dan luar Jawa dalam akses fasilitas kesehatan. Hal ini menuntut pemerintah untuk memperjelas prioritas kesehatan, meningkatkan investasi infrastruktur kesehatan di daerah terpencil, serta memastikan keberlanjutan pembiayaan layanan di seluruh wilayah.

Peran Sektor Swasta dalam UHC

Profesor Berman menekankan pentingnya menjaga basis pendapatan asuransi publik sambil membuka ruang bagi keterlibatan sektor swasta dalam intervensi berbiaya tinggi. Ia mencontohkan pengalaman negara lain seperti Chile, Eropa Barat, dan Amerika Serikat dalam mengatur kontribusi swasta agar tetap menjaga keadilan dan mencegah kecurangan.

Belajar dari Negara Lain

Diskusi juga membandingkan sistem pembiayaan kesehatan Indonesia dengan Belanda, Jerman, dan Malaysia. Dari perbandingan ini terlihat bahwa belanja kesehatan Indonesia masih relatif rendah. Namun, berbagai negara menunjukkan variasi strategi, mulai dari regulasi harga obat hingga pembatasan manfaat bagi kelompok berpendapatan rendah.

Rekomendasi dan Langkah Lanjutan

Beberapa langkah tindak lanjut yang diusulkan antara lain:

  • BPJS Kesehatan: meninjau kembali sistem kapitasi dan mekanisme klaim agar lebih berkelanjutan.
  • Pemerintah: menata ulang prioritas kesehatan, menyeimbangkan investasi antara Jawa dan luar Jawa, serta menilai kembali keberlanjutan paket manfaat JKN.
  • Kementerian Kesehatan: memperkuat upaya pemerataan akses dan menutup kesenjangan suplai layanan.
  • Kolaborasi lintas pihak: mengadakan perencanaan skenario pembiayaan BPJS di masa depan dan melanjutkan seri diskusi untuk merumuskan strategi terbaik.

Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa perjalanan Indonesia menuju UHC yang adil dan berkelanjutan masih penuh tantangan, baik dari sisi pendanaan maupun pemerataan layanan. Namun, dengan pembelajaran dari pengalaman internasional serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, terdapat peluang besar untuk memperkuat sistem pembiayaan kesehatan Indonesia ke depan.

Reporter: Sagena (Health Policy and Management, FK KMK UGM)

,

Policy Seminar “Development of a National Health Insurance: Roles and Functions in Supporting Universal Health Coverage (UHC) in Middle Income Countries (MIC)

Policy Seminar “Development of a National Health Insurance: Roles and Functions in Supporting Universal Health Coverage (UHC) in Middle Income Countries (MIC)

Policy Seminar

Biaya kesehatan yang terus meningkat akibat penuaan populasi, NCD, dan teknologi medis menjadi tantangan besar bagi negara berpendapatan menengah seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Mampukah National Health Insurance (NHI) menjadi solusi menuju Universal Health Coverage (UHC)?

Asia-Pacific Network for Health Systems Strengthening (ANHSS) bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengundang Anda untuk mengikuti Policy Seminar bertema “Development of a National Health Insurance: Roles and Functions in Supporting Universal Health Coverage (UHC) in Middle Income Countries (MIC)

Kegiatan ini telah tersertifikasi Plataran Sehat Kementerian Kesehatan dengan 2 SKP 

Agenda:

Tanggal: 14-15 Oktober 2025

Lokasi: Universiti Kebangsaan Malaysia, Malaysia

Metode: Hybrid

Biaya Kepesertaan:

– Malaysian and Indonesian Participant: 150 USD/Rp2.700.000

– ⁠International Participant: USD 200

Save the Date & Daftar Sekarang!

📝 Pendaftaran: bit.ly/ANHSS2025-Malaysia

ℹ Informasi lengkap: bit.ly/ANHSS2025-Info

Tersedia Informasi paket All-In yang mencakup Tiket Pesawat Jakarta-Kuala Lumpur, Akomodasi, dan Airport Transfer), silahkan hubungi CP

Contact Person:

Ratri Mahanani (0851-5517-2030)

, ,

Seri Webinar: Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Dulu, Sekarang, dan Prediksi Masa Depan

📢 Seri Webinar: Pendanaan Kesehatan di Indonesia:
Dulu, Sekarang, dan Prediksi Masa Depan

📢 Seri Webinar: Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Dulu, Sekarang, dan Prediksi Masa Depan
🎓 Diselenggarakan oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FK-KMK UGM
🔎 Mari bersama memahami perjalanan pendanaan kesehatan di Indonesia, tren global, serta prediksi masa depan untuk mendukung sistem kesehatan yang berkelanjutan

📅 Periode Pelaksanaan: September – Oktober 2025
📍 Online via Zoom

🎙Narasumber:
Dosen & Peneliti dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM (bekerjasama dengan Pakar-pakar Pendanaan Kesehatan di tingkat Asia maupun internasional)

Link pendaftaran:
https://bit.ly/WebinarPendanaanKesehatan

Narahubung:
Sagena (0882-9392-9435)

, ,

MEDINFO 2025 : Healthcare Smart & Medicine Deep

MEDINFO 2025 : Healthcare Smart & Medicine Deep

MEDINFO 2025 adalah konferensi internasional terbesar di bidang informatika kesehatan yang diselenggarakan oleh International Medical Informatics Association (IMIA). Ajang ini mempertemukan peneliti, praktisi, perumus kebijakan, dan inovator dari seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan, riset terbaru, dan solusi digital dalam sistem kesehatan. MEDINFO diadakan setiap dua tahun sekali dan menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara dan sektor. Tahun ini tepatnya pada 9–13 Agustus 2025, MEDINFO digelar di Taipei International Convention Center (TICC), Taiwan, dengan tema “Healthcare Smart × Medicine Deep”. Konferensi ini berfokus pada bagaimana kecerdasan buatan dan teknologi informasi klinis mendalam dapat memperkuat sistem kesehatan global. MEDINFO tahun ini mengangkat 5 track utama diantaranya: Information and Knowledge Management, Human, Organizational, and Social Aspects, Health Data Science & Artificial Intelligence, Quality, Safety, & Outcomes, dan Global Health Informatics, delegasi internasional akan membahas berbagai isu dalam rangkaian presentasi, diskusi panel, workshop, hingga pameran teknologi kesehatan digital. Tim UGM mengikuti kegiatan tersebut dan akan melaporkan liputannya melalui website ini. 

, , , ,

Reportase “Global Health Finance after COVID-19 and the Future of UHC”​

Reportase Webinar

“Global Health Finance after COVID-19 and the Future of UHC”

PKMK-Yogyakarta. Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan webinar dengan topik “Global Health Finance after COVID-19 and the future of UHC” pada Kamis (24/7/2025).  Webinar ini  menghadirkan Prof. Peter Berman yang merupakan Professor University of British Columbia & Adjunct Professor of Global Health and Population, Harvard T.H. Chan School of Public Health sebagai narasumber.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSC, PhD menyampaikan pengantar mengenai pendanaan kesehatan di Indonesia. terdapat peningkatan pengeluaran kesehatan di Indonesia, dengan proporsi terbesar dari skema asuransi kesehatan sosial serta  terdapat peningkatan skema out of pocket (OOP). Setelah COVID-19, BPJS Kesehatan kembali mengalami defisit. Ada kemungkinan kesulitan bagi pemerintah untuk meng-cover biaya klaim BPJS-Kesehatan di masa depan. Pelaksanaan Universal Health Coverage (UHC) di Indonesia saat ini masih belum tercapai, karena belum ada  kesetaraan akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan masih  terdapat ketimpangan antar segmen anggota BPJS, tantangan secara geografis, serta kebijakan kompensasi yang belum dijalankan oleh BPJS.

Selanjutnya, Prof. Peter Berman menyampaikan gambaran pendanaan kesehatan global setelah COVID-19 dan masa depan dari UHC. Pandemi COVID-19 mempengaruhi kondisi ekonomi di tingkat global maupun nasional. Dampaknya setelah pandemi terdapat penurunan bantuan alokasi dana bantuan eksternal yang dapat berpengaruh terhadap program dan sistem kesehatan. Di sisi lain, terdapat tantangan baru bagi pendanaan kesehatan yakni perubahan iklim. UHC merupakan jaminan akses untuk semua layanan kesehatan penting untuk semua orang serta menyediakan perlindungan terhadap risiko finansial. Terdapat peningkatan tren UHC berdasarkan Service Coverage Index (SCI) setelah pandemi, sedangkan proporsi pengeluaran OOP secara global berkisar antara 10%-25%. Semua negara mengalami tantangan untuk mencapai keberlanjutan konsep dari UHC. Pada negara berpendapatan tinggi tantangannya berasal dari peningkatan populasi lansia dengan usia harapan hidup lebih lama, terdapat multi morbiditas, serta adanya peningkatan biaya untuk terapi baru. Sedangkan pada negara pendapatan rendah tingkat pembiayaan kesehatan saat ini sangat terbatas, sehingga perlu mencari keseimbangan antara luaran kesehatan populasi dan perlindungan terhadap risiko finansial.

Indonesia mengalami beberapa tantangan seperti bagaimana keseimbangan antara kebutuhan dengan permintaan untuk layanan kesehatan kemudian bagaimana manajemen yang tepat dengan kondisi di Indonesia yang sangat beragam dalam hal kondisi geografis, suplai pelayanan kesehatan serta kondisi ekonomi. Saat ini cakupan kepesertaan JKN sudah lebih dari 80%, namun masih terdapat kesenjangan dan ketidaksetaraan distribusi manfaat. Pada layanan kesehatan primer, pendanaan lebih banyak berasal dari dana transfer pemerintah melalui berbagai aliran dibandingkan dari JKN. Faktanya, Indonesia sudah memiliki sistem jaminan kesehatan yang mumpuni, namun masih menghadapi tantangan dalam hal keberlanjutan finansial dan ketimpangan layanan.

Reporter: Latifah Alifiana (PKMK UGM)