Keynote virtual session (Online) Human Resources for Health: Addressing Global Shortages and Retention
Speaker: Dr. Viroj Tangcharoensathien
Affiliation: International Health Policy Program (IHPP), Thailand
Time: 09.00 AM
Dr. Viroj Tangcharoensathien delivered the opening keynote presentation, focusing on the global challenges and future directions of the health workforce. The presentation was organized into six key topics, beginning with an overview of the current human resources for health (HRH) crisis and its implications for health systems worldwide.
The speaker emphasized that HRH forms the foundation of effective health service delivery, Universal Health Coverage (UHC), quality of care, health equity, and resilient health systems. However, many countries continue to experience critical workforce shortages driven by insufficient training capacity, inadequate financing, poor working environments, occupational burnout and mental health issues, an aging workforce, and the long-term effects of the COVID-19 pandemic.
Dr. Viroj also discussed the growing issue of international migration of health professionals, highlighting the challenges of “brain drain” experienced by many low- and middle-income countries. These workforce shortages significantly affect access to healthcare, service quality, health outcomes, and the resilience of health systems during emergencies.
The presentation introduced the WHO Global Code of Practice on the International Recruitment of Health Personnel as an important framework for promoting ethical international recruitment and encouraging shared responsibility among countries in managing the global health workforce.
To address workforce shortages, Dr. Viroj presented evidence-based retention strategies that include financial incentives, professional development opportunities, educational support, and improvements to the working environment. He also highlighted the growing role of digital health technologies and task shifting in optimizing workforce capacity and improving service delivery.
The speaker further outlined a long-term health workforce planning framework that supports sustainable HRH development. Using Thailand as a case study, he described several successful national strategies, including rural recruitment schemes, hardship allowances for remote areas, community-based medical schools, mandatory rural service for newly graduated health professionals, career pathway reforms, and the establishment of a nationwide health volunteer network.
In closing, Dr. Viroj emphasized that strengthening the health workforce requires coordinated actions at national, international, and health system levels. He concluded that investing in human resources for health is a shared responsibility among governments, educational institutions, healthcare organizations, international partners, and society to ensure resilient, equitable, and sustainable health systems.
Plenary session 2: The Role of Social Determinants in Health Equity and Policy Responses Health Systems Responses to Social Determinants of Health in Southeast Asia
Prof Tippawan
Prof. Tipawan opened by explaining that disease and health outcomes stem from social, commercial, and even political factors. She then presented the SDoH (Social Determinants of Health) framework, in which individual health sits at the center, surrounded and shaped by five factors: economic stability, social and community context, neighborhood and built environment, healthcare access and quality, and education access and quality. Building on this, she highlighted the framework’s close link to Commercial Determinants of Health (CDoH), including marketing and advertising, unhealthy products, and pricing strategies, and noted that these determinants are further shaped by demographic shifts such as an aging population and migration, as well as behavioral factors like tobacco use, unhealthy diet, and other lifestyle habits.
Drawing on her own publication on modeling population dynamics, health systems, and unmet needs against the health burden in ASEAN and the WHO SEARO region, she highlighted a key finding: migration affects SDoH. This finding led into the next part of the talk, which examined how health systems respond under pressure.

Image 1. anatomy of a shock in health system
The discussion then turned to shock responsiveness and its dual mandate: surging capacity to respond to a shock while maintaining essential services. Illustrating this, the anatomy of a shock in the health system (see Image 1) shows that shocks are shaped by factors on both the supply side and the demand side, a framework that underscores the resilience of the health system.
From there, several WHO and [Author] et al. frameworks on healthcare responsiveness were discussed, emphasizing that health system responsiveness itself is an interconnected ecosystem requiring attention to context, accountability, and rights.
Interesting quote: “Everything in public policy is health policy.”
Following this idea, the session closed with a framework for HSR (Health System Responsiveness) and SDOH built on three pillars: patient level, practice, and system. To put the framework into practice, a decision matrix can be used to identify vulnerability, assess urgency and prioritize, adapt and work around constraints, and allocate resources.

Image 2. Dengue case determinants of health

Image 3. Dengue case health system response
To bring these frameworks to life, a dengue case scenario illustrated multiple determinants of health in practice (see Image 2), summarizing the determinants and their corresponding health responses. The session concluded with a framework of three response levels (see Image 3): clinical, public health, and policy.
Plenary session 2: The Role of Social Determinants in Health Equity and Policy Responses From Health to Social Policy: Building Equity Across Sectors
Plenary session 2: The Role of Social Determinants in Health Equity and Policy Responses
Q&A
Q&A session skipped; proceeded directly to the break
Break
Plenary session 3: Health Policy Implementation: Success Stories and Lessons Learned Implementing Primary Care Networks for Better Access: Lessons from Thailand
Judul Sesi/Materi
“Implementing Primary Care Networks for Better Access: Lessons from Thailand”

Prof. Supasit Pannarunothai
Informasi Narasumber
Nama:
Prof. Supasit Pannarunothai
Institusi/Negara:
Centre for Health Equity Monitoring Foundation, Thailand
Ringkasan Materi
Materi ini membahas konsep dan implementasi Primary Care Networks (PCN) dengan fokus pada pengalaman sistem pelayanan kesehatan primer di Thailand. Primary care network tidak hanya terdiri atas dokter keluarga atau general practitioner, tetapi melibatkan berbagai profesi kesehatan dan tenaga pendukung di masyarakat, seperti apoteker, dokter gigi, dan pekerja sosial. Keberadaan jaringan ini bertujuan untuk mewujudkan pelayanan yang berpusat pada individu, mudah diakses, terkoordinasi, berbasis masyarakat, serta memiliki kesinambungan pelayanan (continuity of care).
Narasumber menekankan bahwa salah satu tantangan utama dalam pengembangan primary care network adalah kompleksitas jaringan yang terdiri atas berbagai profesi dan organisasi dengan karakteristik yang beragam. Meskipun aspek tata kelola dapat berjalan dengan baik, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesinambungan pelayanan masih menjadi salah satu aspek terlemah dalam sistem pelayanan primer. Kondisi serupa ditemukan di Thailand, terutama setelah desentralisasi Primary Care Units (PCUs) kepada pemerintah daerah dan penerapan kebijakan free access yang memungkinkan masyarakat melewati layanan primer dan langsung mengakses rumah sakit. Situasi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat integrasi, koordinasi, dan kesinambungan pelayanan dalam jaringan pelayanan kesehatan primer.
Ke depan, pengembangan primary care network membutuhkan sistem yang mampu mengintegrasikan pelayanan pada berbagai tingkatan, mulai dari interaksi tenaga kesehatan dengan pasien, jaringan pelayanan di tingkat komunitas, rumah sakit, hingga sistem kesehatan nasional. Selain itu, diperlukan mekanisme pembiayaan, pengukuran kinerja, dan evaluasi yang jelas untuk mendukung penerapan integrated care dan value-based healthcare. Pengembangan jaringan pelayanan primer juga perlu mempertimbangkan perubahan ekosistem pelayanan kesehatan, termasuk perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Poin Penting dari Materi
- Primary Care Network Melibatkan Berbagai Profesi dan Sektor
Primary care network tidak hanya terdiri atas dokter keluarga atau dokter umum, tetapi juga melibatkan apoteker, dokter gigi, tenaga kesehatan lainnya, serta pekerja sosial. Keragaman tersebut memungkinkan pelayanan kesehatan diberikan secara lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan individu maupun masyarakat.
- Continuity of Care sebagai Komponen Penting Pelayanan Primer
Kesinambungan pelayanan merupakan salah satu karakteristik utama pelayanan kesehatan primer yang mencakup relational continuity, management continuity, dan informational continuity. Meskipun sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa aspek ini masih menjadi salah satu kelemahan utama dalam primary care network.
- Kompleksitas dalam Evaluasi Primary Care Network
Primary care network memiliki karakteristik yang heterogen karena melibatkan berbagai profesi, organisasi, dan dimensi pelayanan. Oleh karena itu, evaluasi jaringan pelayanan primer tidak cukup hanya melihat tata kelola, tetapi juga perlu menilai akses, koordinasi, integrasi, dan kesinambungan pelayanan untuk mengetahui apakah seluruh komponen jaringan dapat bekerja secara harmonis.
- Pentingnya Integrated Care dan Value-Based Healthcare
Integrated care menjadi mekanisme penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang memberikan nilai bagi pasien dan masyarakat. Integrasi perlu dilakukan pada berbagai tingkatan, mulai dari pelayanan langsung kepada pasien, jaringan di tingkat komunitas, hubungan antara pelayanan primer dan rumah sakit, hingga sistem kesehatan nasional. Namun, penerapan value-based healthcare membutuhkan indikator dan sistem pengukuran yang jelas agar tidak hanya menjadi sebuah konsep tanpa implementasi yang terukur.
- Pembelajaran dari Jaringan Pelayanan Primer selama Pandemi COVID-19
Selama pandemi COVID-19, jaringan pelayanan primer dan pemanfaatan telemedicine berperan penting dalam mendukung perawatan pasien melalui isolasi di rumah dan komunitas serta mencegah beban berlebihan pada sistem kesehatan. Namun, jaringan informal yang terbentuk selama pandemi tidak dapat dipertahankan dan dikembangkan secara berkelanjutan setelah pandemi berakhir.
- Dampak Desentralisasi terhadap Pelayanan Primer di Thailand
Desentralisasi Primary Care Units (PCUs) dari Kementerian Kesehatan kepada pemerintah daerah memberikan tantangan terhadap keberlanjutan pelayanan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya kecenderungan penurunan intensitas pelayanan dan rendahnya penilaian terhadap kesinambungan pelayanan setelah proses desentralisasi. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian terhadap koordinasi dan pengelolaan jaringan pelayanan primer dalam sistem yang terdesentralisasi.
- Tantangan Kebijakan Free Access terhadap Fungsi Gatekeeping
Kebijakan yang memungkinkan masyarakat mengakses fasilitas kesehatan secara bebas dapat melemahkan fungsi pelayanan primer sebagai gatekeeper. Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa kebijakan tersebut mendorong sebagian pasien Diabetes Melitus untuk melewati pelayanan primer dan langsung mengakses rumah sakit regional. Kondisi ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kemudahan akses dan keberlangsungan fungsi koordinasi dalam sistem pelayanan kesehatan. - Tantangan Masa Depan Primary Care Network
Pengembangan primary care network perlu mempertimbangkan keseimbangan antara sistem yang seragam dan keberagaman model jaringan pelayanan. Selain itu, diperlukan penguatan dalam aspek pembiayaan, monitoring, evaluasi, dan pengukuran kinerja agar jaringan pelayanan primer dapat beradaptasi dengan perkembangan sistem kesehatan, termasuk transformasi digital dan kecerdasan buatan.
Pembelajaran Utama / Key Takeaways
Sesi ini menekankan bahwa kekuatan primary care network tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas dan tenaga kesehatan, tetapi oleh kemampuan berbagai profesi, organisasi, dan tingkatan pelayanan untuk bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Continuity of care menjadi salah satu elemen penting yang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam sistem kesehatan yang mengalami desentralisasi dan perubahan kebijakan akses pelayanan. Pengalaman Thailand menunjukkan bahwa pembentukan jaringan pelayanan saja belum cukup tanpa adanya koordinasi, sistem pembiayaan, pengukuran kinerja, dan evaluasi yang jelas. Oleh karena itu, pengembangan primary care network ke depan perlu diarahkan pada sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan mampu menjaga kesinambungan pelayanan di tengah perubahan kebijakan, perkembangan teknologi digital, dan kecerdasan buatan.
Plenary session 3: Health Policy Implementation: Success Stories and Lessons Learned Digital Transformation in Public Primary Care: Lessons from Malaysia
Reportase Narasumber
The 20th Postgraduate Forum of Health Systems and Policies – International Hybrid Conference
Judul Sesi/Materi
Digital Transformation of Public Primary : Lesson from Malaysia Care and Health Information Systems in Malaysia
Informasi Narasumber
Prof. Mohd Rizal Abdul Manaf
Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia
Institusi/Negara:
Malaysia
Bidang/Keahlian (jika ada):
Digital Health, Health Information Systems, Primary Health Care, Health System Transformation
Ringkasan Materi
Narasumber memaparkan perjalanan transformasi digital sistem kesehatan Malaysia yang berfokus pada penguatan pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care/PHC) melalui integrasi sistem informasi kesehatan nasional. Transformasi ini merupakan bagian dari reformasi sistem kesehatan yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan, kontinuitas pelayanan, interoperabilitas data, serta pelayanan yang berpusat pada pasien.
Perjalanan digitalisasi kesehatan di Malaysia dimulai sejak akhir tahun 1990-an melalui pengembangan sistem komputerisasi sederhana di fasilitas kesehatan. Sistem-sistem awal sebagian besar hanya mencatat data dasar pasien, seperti identitas, alamat, dan keluhan utama. Seiring berkembangnya berbagai aplikasi dan sistem informasi, muncul tantangan berupa fragmentasi data, rendahnya interoperabilitas, dan sulitnya pertukaran informasi antar fasilitas kesehatan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Malaysia menetapkan transformasi digital sebagai salah satu prioritas nasional melalui Health White Paper 2023. Dokumen kebijakan ini menjadi peta jalan reformasi sistem kesehatan yang menekankan pergeseran pelayanan dari kuratif menuju promotif dan preventif, peningkatan pemerataan layanan kesehatan, penguatan tata kelola, serta percepatan transformasi digital melalui sistem informasi kesehatan yang terintegrasi.
Sebagai implementasinya, Malaysia mengembangkan Primary Care Health Clinical Information System (TPC-OHCIS) sebagai sistem informasi klinis terpadu di pelayanan kesehatan primer. Sistem ini dikembangkan bersama MIMOS untuk menggantikan berbagai sistem lama (legacy systems) dan memungkinkan pencatatan klinis yang lebih terstandarisasi, berpusat pada pasien, memiliki kemampuan bekerja secara offline, serta terintegrasi dengan fasilitas kesehatan lainnya.
Transformasi tersebut dilanjutkan melalui pengembangan Cloud-based Clinical Case Management System (CCMS)yang direncanakan diimplementasikan pada periode 2026–2028. Sistem ini mengusung konsep “One Citizen, One Patient, One Health Record”, yaitu setiap warga negara memiliki satu rekam medis elektronik yang dapat digunakan sepanjang hidupnya. Dengan konsep ini, pasien diharapkan dapat memperoleh pelayanan di berbagai fasilitas kesehatan tanpa perlu membawa dokumen medis karena seluruh riwayat pelayanan, obat, pemeriksaan laboratorium, dan tindakan medis telah tersimpan dalam satu sistem nasional.
Dalam jangka panjang, Malaysia juga menargetkan pembangunan Electronic Lifetime Health Record (eLHR) yang akan mengintegrasikan seluruh riwayat kesehatan masyarakat sejak lahir hingga akhir hayat (womb-to-tomb record). Sistem tersebut akan mencakup pelayanan kesehatan primer, rumah sakit, kesehatan gigi, kesehatan ibu dan anak, imunisasi, penyakit kronis, hingga pelayanan kesehatan masyarakat.
Narasumber juga menjelaskan keberhasilan implementasi aplikasi MySejahtera selama pandemi COVID-19 sebagai salah satu contoh transformasi digital yang berhasil diadopsi secara luas. Sekitar 85% masyarakat Malaysiamenggunakan aplikasi tersebut dalam waktu enam bulan. Awalnya aplikasi digunakan untuk pelacakan kontak dan sertifikat vaksinasi, kemudian dikembangkan menjadi platform layanan kesehatan digital yang menyediakan informasi kesehatan, pemesanan layanan rawat jalan, pemantauan penyakit, serta notifikasi risiko penyakit berbasis Geographic Information System (GIS).
Meski demikian, narasumber menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada teknologi, melainkan pada perubahan organisasi dan perilaku pengguna. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan transformasi digital hanya sekitar 10% ditentukan oleh teknologi, sedangkan 90% bergantung pada manusia (people), kesiapan organisasi, pelatihan tenaga kesehatan, edukasi masyarakat, serta manajemen perubahan (change management).
Poin Penting dari Materi
- Transformasi dari Legacy System Menuju Sistem Terintegrasi
Malaysia secara bertahap menggantikan berbagai legacy system yang terpisah menjadi satu sistem informasi kesehatan nasional yang mampu menghubungkan pelayanan kesehatan primer, rumah sakit, serta sektor kesehatan publik dan swasta.
- One Citizen, One Patient, One Health Record
Konsep utama transformasi digital Malaysia adalah setiap warga negara memiliki satu rekam medis elektronik yang dapat diakses secara aman oleh seluruh fasilitas kesehatan sehingga meningkatkan kontinuitas pelayanan dan mengurangi duplikasi pemeriksaan maupun pengobatan.
- Health White Paper 2023 sebagai Roadmap Reformasi
Health White Paper 2023 menjadi dasar kebijakan transformasi sistem kesehatan Malaysia dengan fokus pada:
- Transformasi pelayanan dari kuratif menuju promotif dan preventif.
- Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
- Peningkatan pemerataan akses dan pembiayaan kesehatan.
- Penguatan tata kelola sistem kesehatan.
- Peningkatan kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
- Pengembangan CCMS dan Electronic Lifetime Health Record
Malaysia mengembangkan Cloud-based Clinical Case Management System (CCMS) sebagai fondasi menuju Electronic Lifetime Health Record (eLHR) yang akan menyimpan seluruh riwayat kesehatan masyarakat sejak lahir hingga akhir hayat.
- Pemanfaatan MySejahtera
Keberhasilan MySejahtera menunjukkan bahwa platform digital dapat mendukung pelayanan kesehatan secara luas melalui:
- Sertifikat vaksinasi.
- Disease surveillance.
- GIS-based disease notification.
- Appointment booking.
- Akses informasi kesehatan masyarakat.
- Interoperabilitas antara Sektor Publik dan Swasta
Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah belum optimalnya pertukaran data antara fasilitas kesehatan publik dan swasta. Oleh karena itu, pembangunan standar interoperabilitas menjadi prioritas agar data pasien dapat digunakan secara berkesinambungan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
- Transformasi Digital Berorientasi pada Manusia
Narasumber menekankan bahwa teknologi hanyalah alat. Faktor penentu keberhasilan transformasi adalah kepemimpinan, kesiapan tenaga kesehatan, pelatihan, edukasi pasien, perubahan budaya organisasi, serta penerimaan pengguna terhadap sistem baru.
- Implementasi Dilakukan Secara Bertahap
Malaysia memilih pendekatan bertahap melalui proyek percontohan, integrasi sistem yang sudah ada, evaluasi berkelanjutan, dan perluasan implementasi secara nasional untuk meminimalkan risiko kegagalan.
Pembelajaran Utama / Key Takeaways
Transformasi digital sistem kesehatan tidak hanya bertujuan menggantikan sistem informasi lama dengan teknologi yang lebih modern, tetapi membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi, interoperabel, dan berpusat pada pasien. Pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi sangat bergantung pada perubahan organisasi, kesiapan sumber daya manusia, serta kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Melalui konsep “One Citizen, One Patient, One Health Record”, Malaysia berupaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih berkesinambungan, efisien, dan berkualitas untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Pemaparan mengenai transformasi digital sistem kesehatan Malaysia yang menyoroti pengembangan Cloud-based Clinical Case Management System (CCMS), interoperabilitas data kesehatan, serta konsep “One Citizen, One Patient, One Health Record” pada The 20th Postgraduate Forum of Health Systems and Policies – International Hybrid Conference.
Reporter:
Ika Agustin
Plenary session 3: Health Policy Implementation: Success Stories and Lessons Learned Interoperable Health Information Systems to Support Continuum of Care in Primary Health Centers: Lessons from Indonesia
Q&A
Pertanyaan: “Bagaimana saran Anda agar kita dapat memfasilitasi repositori data di tingkat negara bagian (state levels) dan juga melibatkan pihak akademisi, sehingga kita dapat membuat data yang konsisten untuk penelitian?”
Jawaban Panelis
1. Integrasi Sistem dan Repositori Data
Untuk memfasilitasi terbentuknya repositori data nasional, pendekatan yang disarankan bukanlah mengganti seluruh sistem yang sudah ada, melainkan mengintegrasikan berbagai sistem informasi kesehatan yang telah digunakan. Hal ini penting karena banyak rumah sakit telah menggunakan sistem dari vendor yang sama selama 10–20 tahun sehingga penggantian sistem secara menyeluruh tidak realistis.
Sebagai solusi, diperlukan sebuah repositori pusat atau middleware/interoperability platform yang berfungsi sebagai penghubung antar sistem sehingga seluruh aplikasi dapat “talk to each other” dan bertukar data secara aman. Dengan demikian, setiap institusi tetap dapat menggunakan sistem yang dimilikinya, namun data tetap dapat dibagikan dan dimanfaatkan secara terpadu.
Contoh di Malaysia, rumah sakit pemerintah masih menggunakan sekitar 6–8 sistem informasi yang berbeda, dan hingga saat ini sebagian besar sistem tersebut belum dapat saling berkomunikasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada jumlah sistem, melainkan pada kurangnya interoperabilitas antar aplikasi.
2. Tata Kelola dan Privasi Data Pasien
Keberhasilan integrasi sistem tidak hanya bergantung pada aspek teknologi, tetapi juga memerlukan kebijakan (policy) dan tata kelola data yang kuat. Pemerintah perlu menetapkan regulasi yang mewajibkan institusi kesehatan menjaga kualitas data, menerapkan standar interoperabilitas, serta mendukung mekanisme berbagi data secara aman.
Dalam konteks privasi, pembagian data termasuk melalui layanan cloud harus tetap melindungi kerahasiaan pasien. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan adalah anonimisasi atau de-identifikasi data, yaitu mengganti identitas spesifik pasien dengan nomor atau kode unik sehingga data tetap dapat digunakan untuk integrasi maupun penelitian tanpa mengungkap identitas individu.
3. Peningkatan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Data
Selain infrastruktur digital, kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi digital. Petugas kesehatan di tingkat daerah bertanggung jawab mengelola kesehatan masyarakat sekaligus menghasilkan data pelayanan, namun masih banyak yang belum memiliki kemampuan memadai dalam melakukan analisis dan pemanfaatan data.
Oleh karena itu, peningkatan kompetensi digital (digital competency) perlu menjadi prioritas agar tenaga kesehatan mampu memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan, perencanaan layanan, dan peningkatan kualitas pelayanan, bukan sekadar memenuhi kewajiban pelaporan (not just for reporting).
Untuk mendukung hal tersebut, juga direncanakan penerapan common portal atau portal bersama yang memungkinkan fasilitas kesehatan mengirimkan data menggunakan standar yang seragam sehingga pertukaran data dan analisis dapat dilakukan dengan lebih mudah.
4. Data Personal dan Perawatan Terintegrasi
Dalam pembahasan mengenai interoperabilitas, disampaikan pula pengalaman Tiongkok (China) yang menunjukkan bahwa berbagai jenis data, seperti data utilisasi layanan kesehatan dan data genomik, dapat diintegrasikan ke dalam personal health record milik setiap individu.
Pendekatan ini memungkinkan data kesehatan digunakan secara lebih komprehensif dalam mendukung pengambilan keputusan klinis maupun keluarga, sekaligus menjadi fondasi bagi integrated care. Dengan rekam kesehatan yang terintegrasi sepanjang hayat, informasi pasien dapat diakses secara berkesinambungan pada berbagai tingkat pelayanan, sehingga meningkatkan kontinuitas pelayanan dan kualitas layanan kesehatan di tingkat komunitas maupun nasional.
Poin Utama Diskusi
- Integrasi sistem lebih realistis dibandingkan mengganti seluruh sistem yang sudah berjalan.
- Dibutuhkan repositori nasional atau middleware agar berbagai sistem dapat saling berkomunikasi.
- Tata kelola dan regulasi yang kuat menjadi prasyarat keberhasilan berbagi data.
- Privasi pasien harus dijaga melalui anonimisasi atau de-identifikasi data.
- Kompetensi digital tenaga kesehatan perlu ditingkatkan agar data dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan, bukan hanya pelaporan.
- Penggunaan common portal dan standar interoperabilitas akan mempermudah pertukaran data.
- Integrasi personal health record yang mencakup data klinis hingga genomik menjadi fondasi pelayanan kesehatan terintegrasi (integrated care).
Reportase: Purwa