Sesi 3: Identifikasi Bentuk Media Edukasi Ideal untuk Kebutuhan Regenerasi Kader dalam Mendukung Perawatan Lansia Tirah Baring

Sabtu, 6 Juni 2026 — Tim Abdimas dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Gizi, Keperawatan, Pendidikan Kedokteran dan Bioetika Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Co-Design bersama Kader Lansia Desa Kuningan. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Kelas U.25 A–B Gedung Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Workshop ini menjadi ruang pertemuan antara tim akademik dan kader masyarakat untuk menggali pengalaman, kebutuhan, tantangan, serta bentuk dukungan yang diperlukan dalam penguatan edukasi kesehatan bagi lansia dan masyarakat Desa Kuningan. Sesi ketiga workshop mengangkat tema “Identifikasi Kebutuhan dan Preferensi Media Edukasi bagi Lansia”. Sesi ini difasilitasi oleh Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J dan Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH., dengan dukungan co-fasilitator yaitu Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc. Ph.D., Luthfia Cahyadina Marjuki, dan Jihan Muna Syahidah. Diskusi sesi ketiga lebih difokuskan pada perancangan desain media edukasi yang akan digunakan oleh lansia Desa Kuningan. Pembahasan ini dilakukan untuk mengetahui desain paling digemari dan sesuai dengan kebutuhan lansia sebagai sasaran. Hasil dari sesi ini menjadi dasar dalam pengembangan media edukasi yang lebih ramah lansia, mudah digunakan, dan efektif dalam mendukung proses penyampaian informasi pada kegiatan-kegiatan yang selanjutnya dilaksanakan oleh para kader lansia secara mandiri.
Dalam proses diskusi, para kader berdiskusi secara langsung dalam membangun media edukasi yang ideal untuk digunakan secara mandiri dan mudah untuk dipahami oleh para lansia penerima edukasi. Melalui diskusi interaktif, para lansia memberikan masukan mengenai ukuran media, tampilan visual, ukuran dan jenis tulisan, serta kombinasi warna. Peserta turut menambahkan pengalaman di masyarakat sebagai pertimbangan dalam menentukan preferensi dan kebutuhan. Kegiatan terdiri dari demonstrasi dummy media edukasi, observasi media oleh para lansia, serta penyampaian pendapat dan pemungutan suara pada beberapa aspek desain media. Setelah menyusun daftar prioritas materi edukasi, diskusi kemudian diarahkan untuk membedakan antara topik yang cukup diberikan sebagai informasi umum dan topik yang perlu disampaikan secara berulang. Pemungutan suara penting karena beberapa isu kesehatan, terutama yang berkaitan dengan perubahan perilaku, kepatuhan pengobatan, dan perawatan lansia sehari-hari, tidak cukup dipahami melalui satu kali penyuluhan. Kader memiliki perbedaan preferensi sehingga perlu dilakukan pemungutan suara untuk mendapatkan keputusan akhir sebagai kesimpulan dari preferensi mayoritas lansia.

Rancangan Media Edukasi Leaflet
Fasilitator terlebih dahulu menjelaskan pilihan media edukasi dan cara penggunaannya menggunakan peraga berupa dummy media edukasi, baik leaflet ataupun lembar balik. Para kader kemudian diberikan kesempatan untuk mengamati secara langsung untuk mendapatkan gambaran spesifik dari media edukasi yang akan diberikan. Dari dummy leaflet, kritik yang diberikan oleh para lansia adalah warna huruf yang kurang cerah dan kontras sehingga tidak tampak jelas dan sulit untuk dibaca oleh lansia. Aspek lainnya seperti ukuran dan jenis huruf sudah baik dan jumlah informasi sudah cukup, tidak terlalu banyak atau sedikit. Pilihan dan kombinasi warna latar belakang yang lebih disukai oleh kader adalah warna yang lebih tajam seperti merah, oranye, hijau, dan kuning. Tampilan visual secara keseluruhan sudah sesuai dengan preferensi yaitu dengan mengkombinasikan gambar kartun dan menggunakan foto kelompok lansia di bagian cover. Kader juga memberikan masukan untuk menambahkan kalimat motivasi bagi lansia.
Jenis dan Ukuran Media Edukasi Lembar Balik
Sebelumnya, para lansia hanya pernah mendapatkan leaflet dan buku dari puskesmas yang kurang cocok untuk proses penyampaian edukasi secara langsung dengan jumlah peserta yang lebih banyak di masyarakat. Para kader berharap untuk mendapatkan media edukasi dengan materi penting dan bentuk yang lebih cocok dan mudah untuk digunakan berulang-ulang ketika pertemuan lansia setiap bulan. Lembar balik dirasa sesuai untuk para lansia setelah mencoba menggunakan dummy peraga yang didemonstrasikan. Aspek desain pertama yang didiskusikan dari media edukasi lembar balik adalah ukuran media. Fasilitator memberikan perbandingan media edukasi berukuran A4 dan A3. Para kader menilai lembar balik berukuran besar tidak cukup praktis untuk mobilitas tetapi sesuai untuk dipakai pada pertemuan yang lebih besar karena tulisannya lebih mudah dibaca. Sedangkan lembar balik yang lebih kecil dinilai cocok untuk pertemuan kelompok kecil dan ukurannya yang praktis dan lebih ringan untuk dibawa.
Tampilan Visual, Kombinasi Warna, dan Jenis Huruf Media Edukasi Lembar Balik
Setelah memetakan materi yang sudah pernah diterima, kader kemudian diminta mengidentifikasi materi apa saja yang menurut mereka penting, tetapi belum banyak diberikan kepada masyarakat. Dalam diskusi, kader menyoroti beberapa topik yang masih dibutuhkan, seperti penyakit gagal ginjal, penyakit paru, TBC, dampak rokok, asam lambung, kesehatan jiwa, stres, kecemasan, gangguan tidur, serta cara mengenali gejala penyakit sejak dini. Kader menilai bahwa kemampuan mengenali gejala awal sangat penting karena masih ada kekhawatiran bahwa masyarakat baru mencari pertolongan ketika kondisi penyakit sudah berat. Selain itu, kader juga mengidentifikasi kebutuhan edukasi mengenai BPJS, kesadaran minum obat dan kontrol rutin, akses alat bantu bagi lansia yang sakit, cara berkomunikasi dengan lansia, pertolongan pertama pada kasus stroke, perawatan lansia tirah baring, penanganan luka, nyeri lutut, asam urat, serta pendampingan lansia yang hidup sendiri. Masukan ini menunjukkan bahwa kebutuhan edukasi tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga akses layanan, kepatuhan pengobatan, perawatan harian, dan dukungan keluarga.
Penutup
Sesi terakhir workshop ini menunjukkan bahwa kader lansia Desa Kuningan memiliki pengalaman yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam diskusi, para kader tidak hanya menyampaikan daftar materi kesehatan yang pernah mereka terima, tetapi juga menceritakan situasi nyata yang mereka hadapi saat mendampingi lansia dan keluarga. Banyak isu yang muncul merupakan persoalan sehari-hari, seperti sulitnya mengingatkan lansia untuk kontrol rutin, kebiasaan merokok yang sulit diubah, kecemasan dan gangguan tidur pada lansia, hingga tantangan merawat lansia yang tirah baring atau tinggal sendiri. Dari sesi ini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan edukasi kesehatan bagi masyarakat Desa Kuningan tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga pada cara merawat, berkomunikasi, dan mendampingi lansia dalam kehidupan sehari-hari. Topik seperti hipertensi, diabetes, stroke, TBC, gizi, BPJS, kesehatan jiwa, demensia, kepatuhan minum obat, dan perawatan lansia tirah baring menjadi kebutuhan penting yang perlu ditindaklanjuti dalam pengembangan materi edukasi. Kesimpulan penting lainnya adalah bahwa kader membutuhkan dukungan yang lebih praktis. Mereka tidak hanya memerlukan tambahan pengetahuan, tetapi juga keterampilan untuk menyampaikan materi dengan cara yang menarik, tidak menggurui, dan mudah diterima masyarakat. Pelatihan public speaking, penggunaan media edukasi, komunikasi saat kunjungan rumah, pertolongan pertama, serta perawatan luka menjadi kebutuhan yang dianggap relevan dengan tugas kader di lapangan. Dengan demikian, hasil sesi ini menjadi dasar penting untuk menyusun materi, media, dan pelatihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kader dan masyarakat. Kader perlu diposisikan bukan sekadar sebagai penerima pelatihan, tetapi sebagai mitra yang memahami kondisi sosial masyarakat. Melalui penguatan kapasitas yang tepat, kader diharapkan dapat semakin percaya diri dalam memberikan edukasi kesehatan dan menjadi pendamping yang lebih kuat bagi lansia di Desa Kuningan. Melalui penguatan kapasitas yang tepat, kader diharapkan dapat semakin percaya diri dalam memberikan edukasi kesehatan dan menjadi pendamping yang lebih kuat bagi lansia di Desa Kuningan. Upaya ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penguatan promosi kesehatan, pencegahan penyakit, kepatuhan pengobatan, dan perawatan lansia berbasis masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung Tujuan 4, Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan praktis, dan kesempatan belajar berkelanjutan bagi kader dalam menjalankan perannya sebagai edukator kesehatan. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap Tujuan 10, Berkurangnya Kesenjangan, dengan mendorong tersedianya edukasi dan pendampingan kesehatan yang lebih inklusif serta sesuai dengan kebutuhan lansia, termasuk mereka yang tirah baring, tinggal sendiri, atau memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.
Reporter:
Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM
Luthfia Cahyadina Marjuki, S.Gz.











Dalam sesi diskusi, dr. Hanevi Djasri menekankan bahwa tantangan utama rumah sakit bukan hanya memahami regulasi, tetapi menerjemahkannya ke dalam keputusan strategis dan langkah operasional yang nyata. Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan dashboard dan sistem informasi agar data yang tersedia tidak berhenti sebagai kebutuhan administratif, melainkan benar-benar menjadi dasar evaluasi dan tindak lanjut. 

Prof. Laksono menegaskan bahwa kepemimpinan klinis tidak terbatas pada rumah sakit, tetapi harus menjangkau seluruh sistem rujukan. Pemimpin klinis berperan memastikan standar pelayanan yang konsisten dari pelayanan primer hingga rujukan lanjutan melalui pendekatan
Dr. Ida menjelaskan bahwa kepemimpinan klinis merupakan kompetensi inti dokter, terutama dalam kasus dengue yang bersifat dinamis dan dapat memburuk dengan cepat. Peran utama pemimpin klinis meliputi pengambilan keputusan berbasis bukti, koordinasi tim interprofesi, komunikasi efektif, serta pemantauan klinis ketat.
Dinas Kesehatan DIY berperan dalam mengoordinasikan analisis kematian dengue melalui sistem audit kasus yang melibatkan rumah sakit, puskesmas, dan dokter ahli. Audit dilakukan untuk memastikan penyebab kematian, mengevaluasi kesesuaian tata laksana dengan standar, serta mengidentifikasi area perbaikan.











