Entries by rsary

,

Reportase Transformasi Kesehatan Indonesia di KONAS XVI & FIT XII IAKMI 2026

Transformasi Kesehatan Indonesia dalam Sorotan Kongres Nasional (KONAS) XVI dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) XII IAKMI 2026

Suasana sidang pembukaan KONAS XVI dan FIT XII IAKMI 2026 di Gedung MPR RI

Jakarta, 31 Oktober 2026 – Transformasi kesehatan Indonesia sudah bergerak ke arah yang benar. Itu kesan utama dari Kongres Nasional (KONAS) XVI dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) 2026. Acara pembukaan berlangsung di Gedung MPR RI pada 30 Oktober 2026, sementara rangkaian sesi berlangsung pada 29 dan 31 Oktober di Kampus FKM UI, Depok. Dihadiri sekitar 500 peserta, konferensi ini mengusung tema “Kolaborasi untuk Transformasi dan Jaminan Kesehatan Nasional Berkelanjutan Menuju Asta Cita Indonesia”.

Namun di balik kesepakatan arah, forum ini memperlihatkan tiga celah. Pembiayaan sudah mengejar siapa yang dilindungi, tetapi belum memastikan hasil yang dicapai. Ukuran keberhasilan masih banyak berhenti pada output, sementara tenaga yang menjadi motor promotif-preventif menghadapi tantangan dalam pengakuan kompetensi dan pengembangan jenjang profesi. Tulisan ini membaca ketiga celah tersebut dari berbagai paparan yang disampaikan dalam forum.

Pembiayaan mengejar sasaran, belum tentu terasa manfaatnya

Paparan Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengenai pemutakhiran data PBI JKMenteri Sosial Saifullah Yusuf memaparkan pemutakhiran DTSEN sebagai dasar sasaran PBI JK. Kuota nasional 96,8 juta jiwa, dan sekitar 92,27 juta penerimanya berada di desil 1–5. Usulan perluasan ke desil 1–8 dengan pembiayaan berjenjang antara APBN dan APBD menunjukkan bahwa pertanyaan tentang siapa yang dilindungi perlu berjalan bersama dengan pertanyaan tentang siapa yang membiayai. Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Luky Alfirman menambahkan bahwa APBN menyerap sebagian guncangan agar tidak langsung dirasakan masyarakat.

Gambaran manfaat perlindungan finansial JKN terlihat dalam studi panel rumah tangga di Indonesia. Studi tersebut mencatat bahwa proporsi keluarga yang mengeluarkan lebih dari 10 persen pengeluarannya untuk berobat turun dari 7,0 persen menjadi 4,0 persen di kalangan peserta JKN antara 2018 dan 2019 (Fattah dkk., 2023). Namun, risiko pengeluaran katastrofik masih menjadi persoalan. Penelitian lain juga menunjukkan adanya keterkaitan perluasan JKN dengan akses layanan yang lebih luas dan penurunan kematian bayi dan balita, meski temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Pesannya jelas: kepesertaan saja belum cukup. Pertanyaan berikutnya adalah apakah layanan benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan dan apakah hambatan biaya lain, seperti transportasi, ikut diperhitungkan.

Di tingkat daerah, tantangannya menjadi semakin kompleks. Paparan Prastuti Soewondo menunjukkan bahwa peningkatan belanja kesehatan tidak otomatis memperbaiki umur harapan hidup. Temuan Lusha Ayu Astari mengenai keseragaman aturan perencanaan yang berhadapan dengan keragaman kapasitas organisasi pelaksana juga menunjukkan bahwa aturan yang sama dapat menghasilkan capaian berbeda ketika kapasitas daerah berbeda. Sasaran yang tepat tidak akan berarti banyak tanpa kapasitas untuk menjalankannya.

Ukuran keberhasilan harus bergeser dari output ke outcome

Transformasi kesehatan juga Prof. Ascobat Gani memaparkan struktur ekosistem layanan primer Puskesmas di Indonesia membutuhkan perubahan cara melihat keberhasilan. Membangun fasilitas dan menyediakan alat adalah bagian dari proses, tetapi bukan tujuan akhir. WHO menggambarkan perjalanan sistem kesehatan dari input dan proses menuju layanan, cakupan, hingga perubahan pada status kesehatan masyarakat (WHO, 2010). Dalam layanan rujukan, Prof. Wahyu Sulistiadi membedakan antara angka yang menunjukkan apa yang tersedia dan angka yang menunjukkan apa yang dialami pasien. Jumlah rumah sakit dan alat medis menunjukkan kapasitas yang dimiliki, sementara waktu tunggu, rujukan keluar daerah, dan mutu klinis lebih dekat dengan pengalaman masyarakat.

Perubahan cara melihat keberhasilan juga membutuhkan data yang dapat digunakan. Studi tahun 2025 mengenai koneksi rekam medis elektronik dengan SATUSEHAT menemukan berbagai kendala teknis, termasuk masalah server dan penerjemahan istilah medis lokal ke standar internasional (Heryawan dkk., 2025). Sistem yang terhubung belum otomatis menghasilkan data yang lengkap, akurat, dan dapat dimanfaatkan. Hal ini juga tercermin dalam penelitian Hanifah Wulandari mengenai personal health record untuk mendukung self-care diabetes di layanan primer, serta penelitian Widita Arum Puspita, mahasiswa SIMKES mengenai pemanfaatan OMOP Common Data Model untuk pengelolaan data kesehatan maternal dan perinatal.

Bagi Puskesmas yang berperan sebagai pusat koordinasi kesehatan di wilayah, data tersebut bukan sekadar kebutuhan administratif. Data menjadi dasar untuk memahami kondisi masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, dan menentukan tindak lanjut layanan. Karena itu, penguatan peran Puskesmas sebagaimana disampaikan Prof. Ascobat Gani juga membutuhkan sistem data yang terhubung dan benar-benar dapat digunakan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi bukan hanya seberapa banyak layanan dibangun atau digunakan, tetapi sejauh mana sistem tersebut menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Manusia di balik sistem

Di balik indikator dan sistem digital terdapat tenaga kesehatan yang menjalankan fungsi promotif dan preventif. Program seperti Cek Kesehatan Gratis, pengendalian TBC, dan berbagai intervensi kesehatan masyarakat membutuhkan tenaga yang mampu bekerja hingga tingkat komunitas. WHO juga menekankan pentingnya memperkuat kapasitas tenaga untuk menjalankan fungsi kesehatan masyarakat esensial (WHO, 2024).

Namun, pekerjaan promotif-preventif sering menghasilkan dampak yang tidak langsung terlihat dalam indikator jangka pendek. Karena itu, penguatan sistem juga perlu berjalan bersama dengan pengembangan kompetensi, pengakuan peran, dan kejelasan jenjang profesi tenaga kesehatan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu perhatian yang muncul dalam paparan Agustin Kusumayati. Prof. Ede juga menekankan pentingnya tenaga cadangan dan kader sebagai bagian dari ketahanan sistem.

Perspektif komunitas tersebut tercermin dalam penelitian Faiz Indra Musyafa, mahasiswa minat KMPK, mengenai model pemberdayaan lansia berbasis komunitas di Kabupaten Sleman. Penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan kesehatan tidak hanya berlangsung di fasilitas pelayanan, tetapi juga melalui kapasitas masyarakat dan pelaku di tingkat komunitas.

Penutup

Tiga celah tersebut pada akhirnya saling terkait. Pembiayaan perlu diikuti ukuran keberhasilan yang tidak berhenti pada jumlah peserta atau layanan, tetapi melihat perubahan yang dirasakan masyarakat. Ukuran tersebut membutuhkan data yang dapat dipercaya, dan data membutuhkan tenaga yang memiliki kapasitas serta pengakuan yang memadai.

Rekomendasi Public Health Expert Meeting merangkum area perubahan tersebut dalam enam pilar transformasi kesehatan: layanan primer, layanan rujukan, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan, sumber daya manusia, dan teknologi kesehatan. Keenam pilar ini menunjukkan bahwa transformasi tidak dapat dibangun melalui satu intervensi saja. Arahnya sudah dipilih; tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas daerah, sistem data, pembiayaan, dan manusia yang menjalankannya bergerak bersama.

Delegasi HPM FK-KMK UGM meraih penghargaan di Closing Ceremony IAKMI 2026

Presentasi oral dari HPM FK-KMK UGM ikut menguji arah itu dari sisi bukti. Lusha Ayu Astari menyoroti perbedaan antara aturan perencanaan yang seragam dan kapasitas daerah yang beragam dalam menentukan prioritas program kesehatan. Hanifah Wulandari membahas pendampingan self-care diabetes melitus berbasis personal health record yang interoperabel di layanan primer. Faiz Indra Musyafa mengangkat pemberdayaan lansia berbasis komunitas di Sleman, dan meraih juara 3 presenter oral. Widita Arum Puspita memaparkan pemanfaatan OMOP Common Data Model untuk data kesehatan ibu dan perinatal.

Kaitan dengan SDGs

Agenda KONAS XVI dan FIT XII IAKMI 2026 berkaitan dengan SDG 3 tentang kesehatan yang baik (target 3.8), SDG 1 tanpa kemiskinan (target 1.3), SDG 2 tanpa kelaparan (target 2.2), SDG 10 berkurangnya kesenjangan (target 10.4), dan SDG 17 kemitraan (target 17.18). Tiga celah yang dibahas menentukan apakah SDG 3 bisa tercapai pada 2030.

Sumber rujukan

  • Fattah, R. A., Cheng, Q., dkk. (2023). Incidence of catastrophic health spending in Indonesia: Insights from a household panel study 2018–2019. International Journal for Equity in Health, 22, 185.
  • Heryawan, dkk. (2025). Studi tentang kendala teknis koneksi EMR ke SATUSEHAT. JMIR Formative Research, 9, e51270.
  • World Health Organization (2010). Monitoring the Building Blocks of Health Systems: A Handbook of Indicators and Their Measurement Strategies.
  • World Health Organization (2024). Defining Essential Public Health Functions and Services to Strengthen National Workforce Capacity.

Rangkuman materi dan angka pendukung: Rangkuman Materi KONAS & FIT IAKMI 2026.pdf


Penulis: Lusha Ayu Astari

,

Reportase Diseminasi BalitaPRIMA Tahap II: Sistem Rujukan Balita Malnutrisi

Kulon Progo, 30 Oktober 2026.

Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan BalitaPRIMA Tahap II: Penguatan Sistem Rujukan Balita Malnutrisi di Layanan Primer dan Komunitas melalui Sistem Respons Cepat Berbasis Mobile Health

Tim peneliti BalitaPRIMA FK-KMK Universitas Gadjah Mada bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo menyelenggarakan diseminasi hasil penelitian dan pengembangan BalitaPRIMA Tahap II. Kegiatan ini didukung Hibah Academic Health System (AHS) FK-KMK UGM dan berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo pukul 09.00–11.00 WIB. Peserta yang hadir berasal dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruh Puskesmas, dan rumah sakit jejaring di Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan ini sekaligus menjadi momen peluncuran policy brief berisi rekomendasi kebijakan dari hasil studi BalitaPRIMA Tahap I dan II.

Tim peneliti BalitaPRIMA terdiri atas dr. Braghmandita Widya Indraswari, M.Sc., Ph.D., Sp.A., Subsp. TKPS(K); dr. Dzikri Fadhilah, M.HPM; Digna Niken Purwaningrum, S.Gz., MPH, Ph.D.; dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D.; dan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D. Penelitian ini dilaksanakan bersama peneliti mitra pemerintah daerah, yaitu: Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo: dr. Rina Nuryati, MPH; Puskesmas Sentolo I: dr. Renny Lo, RSUD Nyi Ageng Serang (NAS): dr. Maria Ulfa, M.Sc., Sp.A.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dr. Rina Nuryati, MPH, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo. Selanjutnya, dr. Braghmandita Widya Indraswari memberikan pengantar mengenai latar belakang dan pelaksanaan kegiatan.

Paparan utama diseminasi disampaikan oleh dr. Dzikri Fadhilah, MHPM, mengenai pelaksanaan dan hasil penguatan pemantauan serta koordinasi rujukan balita malnutrisi melalui sistem respons cepat berbasis mobile health. Pada Tahap I, BalitaPRIMA dikembangkan secara partisipatif bersama Puskesmas Sentolo I, Dinas Kesehatan, dan orang tua balita melalui layanan Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT).

Pada Tahap II, sistem diperkuat bersama RSUD Nyi Ageng Serang dengan fitur pemantauan rujukan hingga rujuk balik, dilengkapi notifikasi kepada tim pemantauan untuk mencegah balita hilang dari perawatan (loss to follow-up). Hasil implementasi menunjukkan sistem ini berpotensi layak diterapkan dan dapat diterima oleh Puskesmas, rumah sakit, maupun orang tua balita.

Paparan dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta dari rumah sakit rujukan dan Puskesmas.

Dalam sesi diskusi, Prof. Adi Utarini menegaskan bahwa BalitaPRIMA merupakan riset implementasi, yaitu upaya bersama untuk memecahkan hambatan dalam pelayanan. Dalam konteks ini, PKAT menjadi pintu masuk pengembangan BalitaPRIMA. “BalitaPRIMA bukan sebuah program, melainkan strategi untuk mendukung pelaksanaan PKAT serta pencegahan dan penanganan balita malnutrisi,” jelasnya. Melalui riset implementasi, hambatan dan faktor pendukung dapat diidentifikasi untuk mewujudkan pelayanan yang lebih baik.

Prof. Adi Utarini  juga menjelaskan tahapan evaluasi riset implementasi. Tahap I dan II berfokus pada kelayakan (feasibility) dan keberterimaan (acceptability). Tahap berikutnya akan menilai kepatuhan pelaksanaan (fidelity) ketika sistem diadopsi, kemudian cakupan (coverage) dan efisiensi biaya, sehingga keberlanjutan sistem dapat diukur.

Perwakilan Dinas Kesehatan DIY, dr. Anisya Ulfah Hanum, M.Kes, menyampaikan harapan agar BalitaPRIMA dapat dikembangkan di Kabupaten Gunungkidul, mengingat tingginya kasus stunting dan masalah kesehatan jiwa di wilayah tersebut. Menurutnya, pengembangan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs):

  • SDG 2: Tanpa Kelaparan. Target 2.2: menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030, termasuk mencapai target internasional untuk balita pendek (stunting) dan kurus (wasting).
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Target 3.2: menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKBa) per 1.000 kelahiran hidup.

 

Reporter:
dr. Dzikri Fadhilah, MHPM
Lintang Kirana, S.I.Kom

,

Urgensi Tata Kelola AI Layanan Kesehatan | HPM FK-KMK UGM

Yogyakarta, 14 Oktober 2026 – Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (HPM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Seminar Rabuan bertajuk “Merespons Diskursus AI di UNGA 81: Tata Kelola Kecerdasan Artifisial dalam Layanan Kesehatan: A Global Wake-Up Call” pada Rabu (14/10). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Lantai 1 Gedung Tahir Sayap Utara, FK-KMK UGM, ini menjadi forum diskusi mengenai perkembangan pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) serta kebutuhan tata kelolanya dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu dr. Gregorius Bimantoro, MPH, Director of Senalogy Radiology and AlphaHub CRX Jakarta; dr. Ahmad Hidayat, M.Sc., MBA, Ketua Technical Working Group Satu Sehat; serta Annisa Ristya Rahmanti, S.Gz., Dietisien, MS., Ph.D., dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. Diskusi dipandu oleh dr. Dzikri Fadhilah, MHPM, dengan dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., selaku pembahas.

Dalam pengantarnya, forum ini menyoroti perkembangan AI yang semakin cepat, sementara kerangka regulasi dan mekanisme pengawasannya masih menghadapi berbagai tantangan. Di sektor kesehatan, pemanfaatan AI menawarkan peluang untuk mendukung proses diagnosis, analisis data klinis, dan efisiensi pelayanan. Namun, penerapannya juga menimbulkan persoalan terkait keamanan data, keandalan algoritma, tanggung jawab hukum, serta keselamatan pasien.

Peluang AI dan Tantangan Penerapannya dalam Pelayanan Klinis

Dalam paparannya, dr. Gregorius Bimantoro membahas kebutuhan dan tantangan penggunaan AI dalam layanan kesehatan, termasuk perkembangan teknologi kesehatan dan pentingnya dukungan regulasi nasional. Pemanfaatan AI, termasuk untuk membantu interpretasi citra radiologi, berpotensi mendukung pelayanan kesehatan, terutama ketika fasilitas kesehatan menghadapi keterbatasan tenaga medis spesialis. Meskipun demikian, penggunaan AI tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan validasi dan pengawasan klinis. Model AI yang dikembangkan menggunakan data dari populasi tertentu belum tentu memberikan kinerja yang sama ketika diterapkan pada populasi lain. Oleh karena itu, validasi lokal menjadi aspek penting untuk memastikan bahwa teknologi yang digunakan sesuai dengan karakteristik pasien dan kebutuhan pelayanan kesehatan di Indonesia. Persoalan tersebut mengemuka dalam sesi diskusi ketika peserta menanyakan batasan penggunaan AI untuk membantu penegakan diagnosis berbasis pencitraan radiologi di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Diskusi menekankan pentingnya membedakan fungsi AI sebagai alat bantu analisis dan kewenangan tenaga medis dalam menetapkan diagnosis. Penggunaan AI juga perlu memperhatikan ketentuan perizinan pelayanan, kompetensi profesional, serta kejelasan tanggung jawab atas hasil pemeriksaan.

Tata Kelola AI dalam Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Perspektif kebijakan dan sistem informasi kesehatan disampaikan oleh dr. Ahmad Hidayat. Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya membangun tata kelola AI yang mampu mengimbangi perkembangan teknologi sekaligus melindungi kepentingan masyarakat. Tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan perlindungan data pribadi, tetapi juga kedaulatan data, kesenjangan kapasitas teknologi antarnegara, dan posisi Indonesia dalam perkembangan ekosistem AI global. Dalam konteks Indonesia, pengembangan dan pemanfaatan AI perlu berjalan seiring dengan penguatan ekosistem kesehatan digital, termasuk melalui SATUSEHAT. Interoperabilitas sistem informasi kesehatan menjadi salah satu fondasi penting, tetapi pemanfaatan data untuk analisis dan pengembangan AI juga memerlukan standardisasi yang memadai agar data dapat digunakan secara konsisten dan bermakna. Salah satu pendekatan yang turut dibahas adalah federated learning, yaitu pendekatan pengembangan model AI yang memungkinkan proses pembelajaran dilakukan dengan tetap menyimpan data di institusi asalnya. Pendekatan ini dapat menjadi alternatif yang perlu dikaji lebih lanjut untuk mendukung pemanfaatan data kesehatan sekaligus memperhatikan aspek privasi dan keamanan data. Pembahasan tersebut menegaskan bahwa Indonesia perlu mengambil peran aktif dalam pengembangan teknologi AI, bukan hanya menjadi pengguna produk yang dikembangkan oleh pihak lain. Upaya tersebut memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan industri teknologi kesehatan.

Responsible AI dan Pentingnya Evaluasi Berkelanjutan

Dari perspektif akademik, Annisa Ristya Rahmanti membahas kerangka pemikiran tata kelola AI kesehatan, penelitian dan evaluasi untuk penerapan Responsible AI, serta pembelajaran dari praktik tata kelola AI di tingkat global. Penerapan AI yang bertanggung jawab perlu memperhatikan prinsip keselamatan pasien, transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan kendali manusia dalam pengambilan keputusan klinis. Evaluasi tidak cukup dilakukan pada tahap pengembangan model, tetapi juga perlu dilanjutkan ketika teknologi diterapkan dalam praktik pelayanan kesehatan. Kinerja model perlu dinilai berdasarkan kualitas data yang digunakan, kesesuaiannya dengan populasi sasaran, serta konsistensi hasil ketika diterapkan pada konteks yang berbeda. Selain itu, diperlukan mekanisme pemantauan, pelaporan insiden, dan koreksi apabila ditemukan kesalahan atau penurunan kinerja sistem. Dalam pembahasannya, dr. M. Lutfan Lazuardi menyoroti pentingnya menerjemahkan hasil riset dan perkembangan teknologi menjadi praktik klinis serta kebijakan yang dapat diterapkan. Tata kelola AI perlu menjawab persoalan nyata di lapangan, termasuk keterbatasan sumber daya manusia, kebutuhan validasi lokal, dan kejelasan pembagian tanggung jawab antara tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, serta pengembang teknologi. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Selain memahami cara menggunakan teknologi, tenaga kesehatan perlu memiliki kemampuan untuk menilai hasil yang dihasilkan AI secara kritis dan menentukan kapan hasil tersebut memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Mendorong Kolaborasi untuk Tata Kelola AI yang Aman dan Bertanggung Jawab

Diskusi dan tanya jawab memperlihatkan bahwa penerapan AI dalam pelayanan kesehatan bukan semata-mata persoalan kecanggihan teknologi. Aspek regulasi, kewenangan klinis, perlindungan data, kesiapan sumber daya manusia, dan mekanisme pertanggungjawaban perlu dibangun secara bersamaan. Forum ini juga menyoroti pentingnya mendorong penyusunan tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk layanan primer, tanpa harus menunggu seluruh kerangka kebijakan di tingkat nasional terbentuk. Kajian akademik dan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk merumuskan mekanisme penerapan AI yang sesuai dengan konteks pelayanan kesehatan Indonesia.

Melalui Seminar Rabuan ini, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM mendorong penguatan diskusi akademik mengenai kebijakan dan tata kelola AI dalam sektor kesehatan. Pemanfaatan AI diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan mutu pelayanan tanpa mengabaikan keselamatan pasien, perlindungan hak masyarakat, dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan klinis.

40 tahun berusaha menjadi Scientist Leader: 1996-2026 (draft)

40 tahun berusaha menjadi Scientist Leader: 1996-2026 (draft)

Ebook:

Draft

Buku lainnya

,

Reportase Kegiatan “Workshop Kesiapan Implementasi Penilaian Ketahanan Iklim Fasilitas Kesehatan Primer di Daerah Istimewa Yogyakarta”

Kamis, 13 Agustus 2026 — Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan bersama Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM menyelenggarakan Sosialisasi Ketahanan Iklim pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer di FK-KMK UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari workshop “Kesiapan Implementasi Penilaian Ketahanan Iklim Fasilitas Kesehatan Primer” yang melibatkan 44 Puskesmas rentan bencana di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Gunungkidul. Kegiatan dilaksanakan oleh tim yang diketuai Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H., bersama Dr. Daniel, M.Sc., Daffa Taufiqulhakim, A.Md.Kes., S.KL., dan Fadliana Hidayatu Rizky U.H., M.H.P.M. Peserta memperoleh pemaparan mengenai perubahan iklim dan ketahanan fasilitas kesehatan, pengenalan instrumen CRESHCF, serta pendampingan pengisian instrumen. Data yang terkumpul diharapkan memberikan gambaran awal mengenai kesiapan Puskesmas menghadapi risiko perubahan iklim dan menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan.

Perubahan Iklim dan Ketahanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer — Dr. Daniel, M.Sc. 

Dalam pemaparannya, Dr. Daniel, M.Sc. menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pelayanan kesehatan. Peningkatan suhu, banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem dapat mengubah pola penyakit, meningkatkan kebutuhan pelayanan, serta mengganggu akses menuju Puskesmas, infrastruktur, pasokan air dan listrik, hingga ketersediaan obat dan vaksin. Sebagai fasilitas kesehatan terdekat dengan masyarakat, Puskesmas harus mampu mengantisipasi, merespons, dan pulih dari gangguan tanpa kehilangan fungsi pelayanan utama. Oleh karena itu, penguatan ketahanan iklim perlu mencakup kesiapan tenaga kesehatan, infrastruktur, pasokan sumber daya, dan prosedur kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan risiko serta kondisi lokal setiap Puskesmas. 

Pengenalan Instrumen CRESHCF — Lusha Ayu Astari, SKM., MPH 

Pada sesi berikutnya, Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H. menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan memperoleh gambaran awal kesiapan Puskesmas di DIY dalam menghadapi risiko perubahan iklim sekaligus menilai penerapan instrumen CRESHCF di pelayanan kesehatan primer. Hasilnya diharapkan dapat mengidentifikasi kekuatan, kesenjangan, dan kebutuhan intervensi sebagai masukan bagi Puskesmas, dinas kesehatan, serta pemerintah daerah dalam menyusun strategi penguatan fasilitas kesehatan yang adaptif dan berkelanjutan. Peserta kemudian diperkenalkan dengan instrumen Climate-Resilient and Environmentally Sustainable Healthcare Facility (CRESHCF) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Instrumen ini menilai empat pilar, yaitu sumber daya manusia; air, sanitasi, dan higiene (WASH); energi dan infrastruktur; serta manajemen dan kesiapsiagaan pelayanan. Keempatnya saling berkaitan dan perlu dipandang sebagai satu kesatuan sistem. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai kerahasiaan data, proses informed consent, dan teknis pengisian instrumen agar hasilnya mencerminkan kondisi aktual setiap Puskesmas.

Pengisian Instrumen CRESHCF dan Pendampingan Peserta

Setelah sesi pemaparan dan tanya jawab, peserta mengisi instrumen CRESHCF secara bertahap dengan pendampingan Daffa Taufiqulhakim, A.Md.Kes., S.KL., dan Fadliana Hidayatu Rizky U.H., M.H.P.M. Pendampingan dilakukan untuk menyamakan pemahaman terhadap indikator dan memastikan jawaban menggambarkan kondisi aktual setiap Puskesmas. Penilaian tidak hanya mempertimbangkan keberadaan sarana, dokumen, atau prosedur, tetapi juga kesiapan dan fungsinya ketika terjadi gangguan. Misalnya, sumber energi cadangan dinilai dari kapasitas dan keberlanjutan operasionalnya, sedangkan dokumen kesiapsiagaan dilihat dari sosialisasi, pelaksanaan simulasi, dan pembaruannya. Proses ini sekaligus membantu peserta mengenali kekuatan dan area yang masih perlu diperbaiki dalam aspek sumber daya manusia, WASH, energi dan infrastruktur, serta manajemen kesiapsiagaan.

Penyampaian Hasil Awal dan Diskusi: Mengidentifikasi Kesiapan serta Kesenjangan Puskesmas

Setelah pengisian instrumen selesai, tim melakukan pengolahan awal dan menyampaikan gambaran hasil pengisian kepada peserta. Sesi ini dipandu oleh Dr. Daniel, M.Sc bersama Lusha Ayu Astari, SKM., MPH., serta menjadi ruang untuk membahas perbedaan kapasitas, kerentanan, dan risiko iklim yang dihadapi masing-masing Puskesmas. Hasil awal dari 44 Puskesmas menunjukkan bahwa kapasitas fasilitas kesehatan secara umum tergolong baik. Sebanyak 35 Puskesmas (79,5%) berada pada kategori kapasitas tinggi dan sembilan Puskesmas (20,5%) pada kategori sedang. Energi memperoleh skor kapasitas tertinggi (79,8%), sedangkan WASH yang mencakup air, sanitasi, dan higiene memperoleh skor terendah (70,9%) serta menjadi prioritas penguatan pada 23 Puskesmas (52,3%). Pada aspek kerentanan, sumber daya manusia menjadi area yang paling memerlukan perhatian, yaitu pada 31 Puskesmas (70,5%). Bahaya iklim yang paling banyak dilaporkan adalah badai atau puting beliung (61,4%), diikuti kekeringan (54,5%) dan banjir (38,6%). Meskipun badai atau puting beliung paling sering dilaporkan, kekeringan menjadi bahaya dengan dampak tertinggi pada hampir separuh Puskesmas yang dianalisis. Temuan ini menunjukkan bahwa setiap Puskesmas menghadapi risiko yang berbeda sesuai kondisi geografis, infrastruktur, ketersediaan air dan energi, kapasitas tenaga kesehatan, serta dukungan sumber daya di wilayahnya. Diskusi menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pelayanan esensial ketika terjadi gangguan, termasuk pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, pengendalian penyakit, pelayanan kegawatdaruratan, serta ketersediaan obat dan vaksin. Karena itu, Puskesmas memerlukan pemetaan risiko, penentuan pelayanan prioritas, prosedur kedaruratan, sumber air dan energi alternatif, sistem rujukan, serta mekanisme komunikasi yang jelas. Penguatan sumber daya manusia juga perlu dilakukan melalui pelatihan, pembagian tanggung jawab, simulasi, dan evaluasi kesiapsiagaan. Penguatan ketahanan iklim tidak dapat dibebankan hanya kepada pemegang program kesehatan lingkungan. Upaya ini membutuhkan keterlibatan pimpinan Puskesmas, tenaga klinis, pengelola sarana dan prasarana, farmasi, surveilans, promosi kesehatan, serta koordinasi dengan dinas kesehatan, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor terkait lainnya.

Penutup: Membangun Fasilitas Kesehatan Primer yang Adaptif dan Berkelanjutan 

Kegiatan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan dan pengelolaan pelayanan kesehatan primer. Melalui instrumen CRESHCF, Puskesmas dapat mengidentifikasi kesiapan, kekuatan, dan kesenjangan sebagai dasar untuk menentukan prioritas perbaikan, memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, serta menjaga kesinambungan pelayanan saat menghadapi risiko iklim. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan keberlangsungan pelayanan kesehatan; SDG 6: Clean Water and Sanitation melalui penguatan akses air bersih, sanitasi, dan higiene; SDG 7: Affordable and Clean Energy melalui peningkatan keandalan serta keberlanjutan energi fasilitas kesehatan; dan SDG 13: Climate Action melalui penguatan kapasitas adaptasi sektor kesehatan terhadap perubahan iklim. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, Puskesmas, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi tersedianya data dasar yang dapat digunakan dalam penyusunan kebijakan ketahanan iklim sektor kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada akhirnya, fasilitas kesehatan primer yang tangguh terhadap perubahan iklim merupakan prasyarat penting untuk memastikan bahwa masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berkesinambungan dalam berbagai situasi. 

 

Reporter 

Fadliana Hidayatu Rizky U.H., MHPM

, ,

FKKMK UGM dan RSA UGM Dorong Standardisasi Data Stroke melalui Workshop OMOP CDM

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas jangka panjang di Indonesia. Di sisi lain, pemanfaatan data klinis untuk peningkatan mutu layanan dan penelitian masih menghadapi tantangan karena dokumentasi yang beragam, naratif, dan belum terstruktur. Kondisi tersebut membatasi integrasi serta pemanfaatan rekam medis untuk analitik, penelitian, maupun pengembangan sistem prediktif berbasis kecerdasan artifisial. Standardisasi data klinis menjadi salah satu fondasi penting agar data yang dihasilkan dalam pelayanan sehari-hari dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Foto bersama peserta workshop

Sebagai bagian dari Hibah Dana Masyarakat Pengabdian kepada Masyarakat Skema Hibah Abdimas Terintegrasi FKKMK UGM, tim Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM menyelenggarakan Technical Workshop: Preparing Stroke Data for OMOP CDM pada Kamis, 30 Juli 2026 bertempat di Ruang Selasar Auditorium Kresna, Lantai 5, Rumah Sakit Akademik UGM. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Standardisasi Catatan Klinis bagi Tenaga Kesehatan untuk Mendukung Transformasi Digital Layanan Stroke di Rumah Sakit Anggota Academic Health System (AHS) UGM” ini sekaligus menjadi bagian dari aktivitas Digital Twin Stroke Care Network, jejaring kolaborasi antara mitra di United Kingdom, Indonesia, dan Vietnam untuk mendorong pemanfaatan data kesehatan, transformasi digital, dan inovasi berbasis AI dalam peningkatan layanan stroke. Kegiatan ini juga mendukung kolaborasi transnasional UK-Indonesia-Vietnam yang sedang dikembangkan bersama FKKMK UGM dan RSA UGM.

Workshop diikuti oleh sekitar 36 peserta dari berbagai profesi dan institusi yang terlibat dalam pelayanan, pengelolaan data, dan penelitian stroke. Dari RSA UGM, peserta mencakup dokter layanan stroke, perawat unit stroke, ahli gizi, fisioterapis, petugas rekam medis, peneliti dan data manager Clinical Research Unit (CRU), serta tim IT SIMRS. Kegiatan ini juga melibatkan peserta dari Departemen Neurologi FKKMK UGM, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM, serta STIKES Bethesda Yakkum. Keterlibatan lintas profesi dan institusi ini menjadi penting karena kualitas data klinis tidak hanya ditentukan oleh sistem informasi, tetapi dibangun sejak data dicatat dalam proses pelayanan, dikelola dalam rekam medis, hingga dimanfaatkan kembali untuk evaluasi mutu dan penelitian.

Kegiatan diawali dengan kuliah pembuka “Membangun Ekosistem Data Stroke untuk Mendukung Mutu Layanan Rumah Sakit” oleh dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., yang memberikan gambaran strategis mengenai pemanfaatan data kesehatan untuk peningkatan mutu, penelitian, dan inovasi digital. Selanjutnya, Annisa Ristya Rahmanti, S.Gz., Dietisien, MS., Ph.D. selaku ketua pelaksana menyampaikan pengantar mengenai tujuan dan luaran workshop. Kegiatan ini secara khusus melibatkan narasumber dari RSA UGM agar proses standardisasi berangkat dari kebutuhan dan kondisi nyata pelayanan. dr. Farida Niken Astari Nugroho Hati, M.Sc., Sp.N. menyampaikan perspektif klinis mengenai kebutuhan data dan indikator mutu stroke, termasuk NIHSS, mRS, dan luaran pasien; dr. Nimitta Talirasa memaparkan praktik dokumentasi dan tata kelola data stroke; sedangkan Firza Aditya Primandani, S.Kom. membahas sumber data, rekam medis elektronik, serta integrasi sistem informasi pendukung layanan stroke di RSA UGM.

Untuk menghubungkan kebutuhan di tingkat rumah sakit dengan standardisasi data yang memungkinkan kolaborasi lintas institusi dan lintas negara, workshop dilaksanakan dengan dukungan jejaring Observational Health Data Sciences and Informatics (OHDSI), termasuk kolaborasi dengan OHDSI Taiwan. Dalam rangkaian kegiatan, apt. Christianus Heru Setiawan, M.Sc. memperkenalkan ekosistem OHDSI dan pemanfaatan OMOP Common Data Model (OMOP CDM) untuk mendukung harmonisasi dan penelitian berbasis data kesehatan. Workshop tidak hanya berupa paparan, tetapi dilanjutkan dengan sesi praktik. dr. Daniel CA Nugroho, MPH memandu Group Exercise: Defining the Minimum Stroke Dataset, di mana peserta bersama-sama mengidentifikasi variabel yang dibutuhkan untuk pelayanan, registri, penelitian, dan pengembangan AI. Selanjutnya, M. Solihuddin Muhtar, MBA memandu sesi Understanding How Stroke Variables Map to OMOP melalui pengenalan domain OMOP dan simulasi pemetaan variabel stroke. Dari proses tersebut, peserta mulai merumuskan komponen minimum stroke dataset yang mencakup data administratif, onset dan alur kegawatan, kondisi klinis dan derajat stroke, pemeriksaan penunjang, terapi, serta luaran pasien. Setiap variabel selanjutnya perlu memiliki definisi operasional, format nilai, sumber data, dan penanggung jawab pengisian agar dataset dapat diterapkan secara konsisten dalam praktik.

Pada akhir kegiatan, apt. Christianus Heru Setiawan, M.Sc. memandu penyusunan rencana tindak lanjut menuju pengembangan data stroke terstandar dan kesiapan OMOP CDM di RSA UGM. Hasil workshop akan ditindaklanjuti melalui pembentukan tim kecil yang melibatkan unsur klinis, rekam medis, IT, dan tim peneliti untuk memfinalisasi minimum stroke dataset serta mempersiapkan tata kelola kolaborasi, termasuk penyusunan Data Sharing Agreement (DSA) sebagai dasar pemanfaatan data untuk kegiatan pengembangan dan penelitian bersama. Tahapan berikutnya diarahkan pada data profiling, pemetaan terminologi, dan penyusunan rancangan Extract, Transform, Load (ETL) menuju OMOP CDM. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan RSA UGM untuk berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif berbasis data, dengan tetap menempatkan rumah sakit sebagai pemilik data dan proses.

Penyampaian materi workshop

Sesi Diskusi bersama fasilitator 1

Sesi Diskusi bersama fasilitator 2

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan pada September–Oktober 2026 melalui pengembangan video pembelajaran Massive Open Online Course (MOOC) mengenai standardisasi data kesehatan dan OMOP CDM. Materi ini diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan kepada tenaga kesehatan dan pengelola data lainnya di lingkungan AHS UGM. Melalui sinergi antara program Damas Abdimas FKKMK UGM, RSA UGM, jejaring OHDSI, serta DT Stroke Care Network UK–Indonesia–Vietnam, workshop ini menjadi langkah awal dari proses pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas SDM, tata kelola, dan kesiapan data menuju ekosistem data stroke yang lebih terstandar dan interoperabel serta mendukung peningkatan mutu layanan dan penelitian kolaboratif lintas institusi dan negara.

, ,

Reportase Kegiatan Workshop : Penguatan Fitur AI dan Simulasi Interoperabilitas Personal Health Records (NusaCare) dengan Sistem Informasi Fasilitas Kesehatan

Senin, 27 Juli 2026.

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Penguatan Fitur AI dan Simulasi Interoperabilitas Personal Health Records (NusaCare) dengan Sistem Informasi Fasilitas Kesehatan pada hari Senin, 27 Juli 2026 di Ruang HPM, Gedung IKM, FKKMK UGM. Workshop ini membahas terkait integrasi data kesehatan melalui NusaCare dan pengembangan fitur AI untuk mendukung prediksi risiko diabetes melitus. Workshop dihadiri tim peneliti, programmer, tim Research and Development Digital Health Innovation Studio, dan asisten peneliti dengan total keseluruhan yang hadir 11 orang.

Pembahasan pertama terkait “Diskusi Bisnis Proses Pertukaran Data” dibuka oleh Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH. Pada sesi ini membahas terkait alur pertukaran data yang dibutuhkan dalam integrasi aplikasi NusaCare dengan sistem layanan kesehatan berbasis komunitas dan primer. Pembahasan ini menjadi bagian penting supaya data kesehatan dapat dapat dipertukarkan dan digunakan secara aman dan konsisten antara berbagai sistem.

Sesi selanjutnya diisi dengan materi “Simulasi Pertukaran Data” yang disampaikan oleh Hendri Kurniawan Prakosa, S.Kom., M.Cs. Pada sesi ini dilakukan pengujian melalui simulasi integrasi antara PHR NusaCare, sistem Posbindu, dan Sistem Informasi Puskesmas. Simulasi ini berisi pengujian alur pertukaran data, validasi struktur dan isi data, serta evaluasi fungsionalitas sistem dalam skenario pelayanan kesehatan dari komunitas sampai rujukan.

Materi terakhir diisi dengan “Mapping Variabel AI untuk Prediksi Diabetes Melitus” yang disampaikan oleh Annisa Ristya Rahmanti, MS, Ph.D, Dietisien dan Sensa Gudya Sauma Syahra, S.Kom., M.Cs. Pada sesi ini membahas terkait pemetaan variabel yang relevan dalam aplikasi dengan public dataset, termasuk data The Indonesia Family Life Survey (IFLS) sebagai salah satu sumber data yang digunakan untuk kebutuhan training model. Hal ini dilakukan untuk mendukung pengembangan model stratifikasi risiko diabetes melitus.

Workshop ini kemudian ditutup dengan diskusi secara keseluruhan. Workshop menjadi bagian dari proses pengembangan dan pengujian aplikasi NusaCare untuk mendukung pemanfaatan data kesehatan yang lebih terintegrasi. Agenda lanjutan dari workshop ini adalah pengenalan aplikasi NusaCare pada pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan primer dan berbasis komunitas.

 

Reportase: Aisya Fa’iq Nariswari Putri, S.Gz., Dietisien

,

Reportase Kegiatan Hybrid Workshop : Improving Patient Safety and Quality of Stroke Care Through Real-World Data, AI and Digital Innovation

Keselamatan pasien merupakan salah satu komponen fundamental dalam melakukan pelayanan stroke karena membutuhkan penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis bukti. Keterlambatan pelayanan, fragmentasi alur perawatan, keterbatasan data klinis, dan kurangnya kesinambungan pelayanan dapat berdampak terhadap luaran klinis pasien. Dalam konteks tersebut, transformasi digital kesehatan, pemanfaatan real-world data, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), dan interoperabilitas data menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan stroke.

Berdasarkan isu tersebut, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Hybrid Workshop:  “Improving Patient Safety and Quality of Stroke Care Through Real-World Data, AI and Digital Innovation” pada hari Kamis, 23 Juli 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di Gedung Tahir lantai 1 FKKMK UGM dan melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini mempertemukan tenaga kesehatan, profesional informatika kesehatan, akademisi, peneliti, dan peserta dari berbagai latar belakang. Sekitar 25 peserta hadir secara luring dan 44 peserta secara daring.

Workshop diawali dengan sesi pembukaan dan pengenalan UK-Indonesia-Vietnam GGP TNE Initiative dan kolaborasi dengan Rumah Sakit Akademik UGM yang disampaikan oleh dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. Sesi ini memberikan gambaran terkait pentingnya inisiatif kolaborasi dan konteks pengembangan inovasi digital dalam pelayanan kesehatan.

Kegiatan dilanjutkan dengan Panel 1: “Building the Foundation” yang dimoderatori oleh Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH. Sesi pertama pada Panel 1 membahas “Stroke Burden, Acute Stroke Care Challenges and Opportunities for Digital Innovation in LMICs” yang disampaikan secara daring oleh Prof. Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.S., M.Kes. Sesi pertama membahas terkait beban stroke, tantangan pelayanan stroke akut, dan peluang inovasi digital untuk memperkuat sistem pelayanan stroke di negara dengan pendapatan rendah dan menengah (low- and middle-income countries/LMICs).

Sesi kedua pada Panel 1 berlanjut pada pembahasan “Strengthening Post-Stroke Rehabilitation and Continuity of Care in LMICs” yang disampaikan oleh dr. Farida Niken Astari Nugroho Hati, M.Sc., Sp.N. Sesi ini membahas tantangan rehabilitasi dan pemulihan jangka panjang pasca stroke, transisi pelayanan dari rumah sakit ke komunitas, pentingnya pelayanan stroke yang multidisiplin dan terintegrasi, serta peluang pemanfaatan teknologi kesehatan dan tele-rehabilitation dalam mendukung proses pemulihan pasien.

Perspektif dari sisi internasional turut dihadirkan melalui sesi “Maximising the Quality of Stroke Care using RESQ (Lesson from Bach Mai Stroke Center)” yang disampaikan secara daring oleh Nguyen Tien Dung, Spec.II, MD. Sesi ini membahas terkait implementasi RES-Q, indikator mutu, peningkatan kualitas berbasis data, dan pembelajaran dari penerapannya di Vietnam.

Rangkaian pemaparan pada Panel 1 kemudian ditutup dengan sesi diskusi yang melibatkan seluruh narasumber Panel 1. Setelah diskusi Panel 1 dan jeda, kegiatan memasuki Panel 2: “Form Data to Digital Innovation” yang dimoderatori oleh Dr. dr. Guardian Yoki Sanjaya, M.Health.Info.

Sesi pertama Panel 2 mengangkat topik “Interoperability and Standardised Health Data for Stroke Research and Innovation” yang disampaikan oleh dr. Nindya Widita Ayuningtyas, M.Sc. Sesi ini membahas konsep OHDSI dan OMOP Common Data Model (CDM), pemanfaatan data kesehatan terstandarisasi untuk mendukung penelitian multi situs, pengembangan real-world evidence, analisis kolaboratif, dan external validation.

Selanjutnya, dr. Daniel CA Nugroho, MPH., membawakan materi “Leveraging National Health Insurance Data for Real-World Evidence: Lessons from Taiwan NHIRD and Indonesia BPJS”. Sesi ini membahas pemanfaatan data jaminan kesehatan nasional, termasuk NHIRD Taiwan dan BPJS Kesehatan, untuk penelitian berbasis klaim, pengembangan real-world evidence, serta penerapannya dalam kebijakan dan penelitian kesehatan.

Sesi selanjutnya dilakukan melalui pembahasan “Linking Electronic Medical Records and REDCap Stroke Registries for Meaningful Use of Stroke Data” yang disampaikan oleh dr. Mawaddah Ar Rochmah, PhD, Sp.N secara daring. Materi ini menyoroti terkait integrasi rekam medis elektronik dengan registry stroke berbasis REDCap, peningkatan kualitas dan kelengkapan data, pemanfaatan sekunder data klinis, serta persiapan data stroke untuk kebutuhan penelitian dan aplikasi AI.

Pembahasan dilanjutkan terkait “Safe and Trustworthy AI for Healthcare in LMICs” yang disampaikan oleh Prof. Ts. Dr. Nurfadhlina Mohd Sharef secara daring. Materi ini membahas aspek penerapan AI yang aman dan dapat dipercaya dalam pelayanan kesehatan, termasuk isu bias dan keadilan dalam AI kesehatan, explainability, transparansi, validasi, tata kelola, serta penerapan responsible AI dalam negara berpendapatan rendah dan menengah.

Rangkaian pemaparan pada Panel 2 kemudian juga ditutup dengan sesi diskusi yang melibatkan seluruh narasumber Panel 2. Workshop ditutup setelah seluruh rangkaian materi dan diskusi selesai. Melalui workshop ini mempertemukan perspektif klinis, kesehatan masyarakat, informatika kesehatan, penelitian, dan transformasi digital untuk membahas penguatan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan stroke.

Reporter: Aisya Fa’iq Nariswari Putri, S.Gz., Dietisien

, ,

Departemen KMK FK-KMK UGM Berpartisipasi dalam Capacity Building Programme on Cross-Cultural Global Health Diplomacy di Peking University

Beijing, China – Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (KMK), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, mengirimkan dosen muda sebagai delegasi mewakili Indonesia dalam Capacity Building Programme on Cross-Cultural Global Health Diplomacy yang diselenggarakan oleh School of Public Health dan Institute for Global Health, Peking University, Beijing, China, pada 13–17 Juli 2026. Delegasi tersebut diwakili oleh Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH. Program ini mempertemukan sekitar 60 peserta dari Tiongkok, negara-negara ASEAN termasuk Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Kamboja, Filipina, serta Afrika untuk memperkuat kapasitas tenaga profesional dalam bidang diplomasi kesehatan global melalui pembelajaran lintas disiplin, pertukaran pengalaman, dan jejaring internasional.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi di bidang global health governance dan health diplomacy, dengan menekankan kemampuan peserta dalam menghadapi tantangan kesehatan global melalui kerja sama internasional. Kurikulum mengkombinasikan kuliah interaktif, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi negosiasi, serta kunjungan lapangan ke institusi yang berperan dalam diplomasi kesehatan global. Topik utama yang dibahas meliputi:

  • Konsep dan kerangka global health diplomacy;
  • Keterampilan negosiasi dalam diplomasi kesehatan;
  • Komunikasi dan kolaborasi lintas budaya;
  • Geopolitik dan diplomasi kesehatan;
  • Masa depan diplomasi kesehatan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan geopolitik global.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi dari akademisi, diplomat kesehatan, dan praktisi internasional yang memiliki pengalaman luas di WHO, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kementerian kesehatan, hingga lembaga filantropi global. Sesi pembukaan diawali dengan kuliah “Introduction to Global Health Diplomacy” oleh Prof. Ren Minghui, Dekan Institute for Global Health, Peking University dan mantan Assistant Director-General WHO, yang membahas perkembangan diplomasi kesehatan sebagai instrumen penting dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan global. Selanjutnya, Prof. Bernhard Schwartländer, mantan Global Health Envoy Pemerintah Jerman dan mantan Assistant Director-General WHO, menyampaikan kuliah mengenai tantangan pencapaian target kesehatan global di tengah dinamika politik internasional.

Pada hari kedua, peserta mendalami International Health Regulations (IHR) Amendments dan Pandemic Accord bersama Dr. Hui Yin, dilanjutkan dengan pelatihan Health Diplomacy Negotiation Skills oleh Dr. Xiaojun Liang dari China Foreign Affairs University yang memperkenalkan strategi negosiasi dalam forum internasional.

Hari ketiga berfokus pada komunikasi lintas budaya melalui materi Cross-Cultural Collaboration for Promoting New Technologies in Primary Healthcare in China and Pakistan yang disampaikan oleh Prof. Xiaolin Wei, serta diskusi mengenai China–Africa Health Cooperation oleh Dr. Yinzi Jin, yang menyoroti implementasi kerja sama kesehatan internasional dalam penguatan sistem kesehatan.

Materi hari keempat membahas Geopolitics in Global Health bersama Prof. Suerie Moon, yang mengulas bagaimana perubahan geopolitik mempengaruhi tata kelola kesehatan global dan diplomasi multilateral. Sementara itu, hari terakhir ditutup dengan dialog mengenai masa depan diplomasi kesehatan, termasuk isu transformasi geopolitik, perkembangan teknologi kesehatan, dan peluang kolaborasi internasional.

Selain memperoleh pembelajaran akademik, program ini membuka kesempatan untuk membangun jejaring profesional dengan peserta dan narasumber dari berbagai negara. Diskusi kelompok yang dilakukan setiap hari memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi praktik baik mengenai penguatan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, kesehatan digital, implementasi universal health coverage, serta pengembangan kebijakan kesehatan di negara masing-masing. Jejaring yang terbentuk diharapkan menjadi fondasi kolaborasi pendidikan, penelitian, maupun pengembangan kapasitas di bidang kesehatan global pada masa mendatang.

Kunjungan ke United Nations Resident Coordinator Office dan Gates Foundation China

Salah satu kegiatan utama program adalah kunjungan ke United Nations Resident Coordinator Office, China, yang dilaksanakan pada 16 Juli 2026 di UN Compound, Beijing. Kegiatan diawali dengan sambutan Prof. Ren Minghui, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari tiga organisasi PBB yang memiliki mandat berbeda dalam pembangunan kesehatan global.

Narasumber pertama, Ms. Nadia Rasheed, UNFPA Representative to China, menjelaskan peran UNFPA dalam isu kependudukan, transisi demografi, penuaan penduduk, perlindungan sosial, serta pembangunan generasi muda. Selanjutnya, Ms. Qiao Jianrong, Coordinator, WHO China Office, memaparkan kontribusi WHO dalam mendukung inisiatif kesehatan nasional dan tata kelola kesehatan global, termasuk koordinasi berbagai agenda kesehatan internasional. Sesi berikutnya disampaikan oleh Mr. Ali Shirazi, Chief of Health, UNICEF China, yang membahas perlindungan anak, kesehatan ibu dan anak, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam mendukung kesehatan anak dan pelayanan kesehatan.

Kegiatan ditutup dengan sesi panel interaktif bertajuk “International Organizations and Global Health in the Context of UN80”, dimoderatori oleh Dr. Yangmu Huang, yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi secara langsung mengenai peran organisasi internasional dalam menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan.

Dalam hari yang sama, peserta melanjutkan kunjungan ke Gates Foundation China Office sebagai bagian dari pembelajaran lapangan mengenai peran organisasi filantropi dalam pembangunan kesehatan global. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Yangmu Huang dari Peking University.

Keikutsertaan delegasi dalam program ini memperkuat kontribusi Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan global. Melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai diplomasi kesehatan, tata kelola kesehatan global, serta jejaring dengan akademisi dan praktisi internasional, diharapkan pengalaman ini dapat mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, dan kolaborasi internasional di lingkungan FK-KMK UGM, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam forum kesehatan global.

,

FK-KMK UGM Perkuat Kemandirian Peserta Prolanis Korpagama Kelola Diabetes Lewat Aplikasi NusaCare

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM kembali menyapa masyarakat lewat kegiatan pengabdian di bidang diabetes melitus (DM). Pada Jumat, 7 Agustus 2026, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (KMPK) FK-KMK UGM menggelar seminar edukasi “Metabolic Mastery Class” di Klinik Dokter Keluarga Korpagama UGM, mengangkat pesan “Hidup Selaras: Mengelola Diabetes/Pre Diabetes secara Mandiri untuk Hidup yang Lebih Sehat”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pendampingan self-care berbasis Personal Health Record di layanan kesehatan primer UGM. Sekitar 30 peserta hadir, terdiri dari peserta Prolanis Klinik Korpagama, peserta dan kader Health Promoting University (HPU) UGM dan HPU FK-KMK UGM, serta perawat Prolanis Korpagama. Sebelum masuk ke materi, seluruh peserta lebih dulu mengisi pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka soal diabetes.

Materi pertama disampaikan Lusha Ayu Astari, MPH, membahas peran layanan primer dan Prolanis dalam mencegah diabetes. Peserta diajak mengisi papan curah pendapat interaktif langsung dari gawai masing-masing, sehingga jawaban dan pengalaman mereka bisa langsung dibahas bersama. Di akhir sesi ini, Lusha juga mengajak peserta bermain kuis ringan “Pak Gama Game” untuk menguji sekaligus mengulang pemahaman yang baru saja dibahas.

Sesi kedua dibawakan dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D, mengupas faktor risiko DM tipe 2 dan cara mempertahankan perubahan perilaku sehat secara bertahap. Materi ini terasa dekat karena dr. Bagas turut membagikan pengalaman pribadinya menjaga pola hidup sehat, bukan sekadar teori.

Materi ketiga oleh dr. Galuh Dyah Fatmala, Sp.KKLP, menjelaskan konsep self-care diabetes, kapan harus konsultasi ke tenaga kesehatan, serta peran keluarga dan kader sebagai pendamping. Ketiga materi ini kemudian dibahas dalam diskusi panel yang dipandu Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH.

Rangkaian acara ditutup dengan demonstrasi aplikasi NusaCare oleh Muhammad Rizky Mangkuwidjaya, S.Si., MHPM. NusaCare adalah aplikasi Personal Health Record yang bisa dipakai mencatat kondisi kesehatan, memantau aktivitas fisik dan makanan, memasang target kesehatan, hingga mengingatkan jadwal kontrol. Peserta langsung mencoba mendaftar dan mencatat kesehatan mereka di aplikasi ini didampingi panitia. Sebagai penutup, seluruh peserta mengisi post-test untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka bertambah setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.

Lewat seminar dan pendampingan aplikasi ini, FK-KMK UGM berharap peserta Prolanis semakin percaya diri mengelola kesehatannya sendiri, sekaligus memperkuat jejaring dukungan antara tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat di layanan primer.