BreaK #44
Salam Sehat, Bapak/Ibu sobat BreaK…

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan acara mingguan BreaK (Bicara tentang Kualitatif) yang dilaksanakan via daring melalui aplikasi Zoom pada:

📆 Hari, tgl: Jumat, 26 Agustus 2022
⏰ Pukul: 14.00-15.00 WIB
✏️ Topik: Klinik BreaK
“Pelaksanaan _Interprofessional Collaborative Practice_ di Rumah Sakit Jejaring Pendidikan”

👩🏼‍💼Narasumber: Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, PhD
👩‍💻Moderator: dr. Haryo Bismantara, MPH

Silakan bergabung melalui link zoom di bawah ini:
💻 http://ugm.id/BicaratentangKualitatif2

Acara ini juga dapat diakses melalui platform:
📻 Aplikasi Raisa Radio di play store untuk android
🌐 Website radioindonesiasehat.com
🎥 Live Streaming (Youtube) channel HPM FK UGM

Anda dapat mengakses:
1. Youtube Channel HPM FK UGM untuk Playlist BreaK
2. Website hpm.fk.ugm.ac.id dan instagram @hpm.ugm untuk update terkait agenda dan tema BreaK setiap minggunya

Episode BreaK Sebelumnya

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #59

Universitas Gadjah Mada (UGM) continued its active role in the DISCERN-DSS project through a collaborative process to refine Digital Scenario-Based Learning (D-SBL) scenarios for health professions education. This activity involved Indonesian and European partner institutions working together to strengthen the quality, relevance, and educational value of digital soft skills learning resources.

The refinement process formed part of DISCERN-DSS, or Digitally enhanced Scenario-Based Learning for Digital Soft Skills, an Erasmus+ Capacity Building in Higher Education project. The project aims to support health higher education institutions in Indonesia in developing digital soft skills through co-creative, scenario-based, and technology-supported learning.

For UGM, the refinement stage was an important continuation of previous project activities, including international training, local capacity building, and scenario co-creation. After developing initial D-SBL resources, partners moved forward by reviewing and improving scenario narratives, decision points, branching pathways, feedback, and learning alignment.

The scenarios were designed to help students engage with realistic digital health situations. These may include challenges related to telemedicine, electronic health records, digital professionalism, patient safety, ethical decision-making, interprofessional communication, and the responsible use of digital technologies in healthcare.

Through the collaborative review process, project partners examined whether each scenario reflected the intended digital soft skills. These skills include communication, collaboration, adaptability, ethical reasoning, professionalism, evidence-informed decision-making, and leadership in digital health contexts.

UGM contributed to the process by bringing its academic experience in health professions education, curriculum development, and digital health transformation. Working together with Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), and European partners, UGM helped ensure that the scenarios were both pedagogically sound and relevant to the Indonesian healthcare education context.

The refinement process also emphasized the importance of learner experience. Each scenario was reviewed to ensure that students would be guided through meaningful choices, receive constructive feedback, and reflect on the consequences of their decisions in a safe digital learning environment.

This collaborative work demonstrates that D-SBL development is not only a technical process, but also a pedagogical and institutional effort. Strong scenarios require clear learning outcomes, realistic cases, coherent decision pathways, appropriate assessment design, and alignment with the competencies expected from future health professionals.

Through DISCERN-DSS, UGM continues to support the development of innovative learning resources that prepare students for healthcare practice in the digital era. The refined scenarios are expected to support future implementation and piloting, while contributing to the broader transformation of health professions education in Indonesia.

UGM’s involvement in this process reaffirms its commitment to international collaboration, educational innovation, and digital health capacity building. The DISCERN-DSS project is expected to help prepare health graduates who are digitally competent, ethical, adaptive, collaborative, and ready to respond to the evolving needs of modern healthcare systems.

Minat Magister Manajemen Rumah Sakit, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan kuliah tamu yang mengangkat tema Regulasi Terkini Rumah Sakit di Indonesia pada 16 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes. sebagai narasumber utama, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS., FISQua sebagai pembahas, serta dr. Srimurni Rarasati, M.P.H sebagai moderator. Kuliah tamu ini diselenggarakan secara hybrid yang diikuti oleh mahasiswa program pascasarjana Program Studi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, serta para praktisi rumah sakit yang mengikuti baik secara luring maupun daring. Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan perspektif kebijakan, manajemen, dan praktik pelayanan kesehatan untuk menelaah arah perubahan regulasi rumah sakit di Indonesia. 

Dalam pemaparannya, dr. Ockti menjelaskan bahwa arah kebijakan kesehatan nasional saat ini bergerak dalam visi “Kesehatan untuk Semua”, yang dijalankan melalui transformasi sistem kesehatan. Dalam konteks rumah sakit, perhatian utama diarahkan pada transformasi layanan rujukan, terutama melalui penguatan jejaring rumah sakit, standardisasi pelayanan bermutu, serta penerapan Rujukan Berbasis Kompetensi (RBK). Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat akses pasien terhadap layanan yang sesuai, sekaligus meningkatkan ketepatan dan efisiensi proses rujukan. Narasumber juga menegaskan bahwa pasca Undang-Undang Kesehatan, klasifikasi rumah sakit semakin ditekankan pada kemampuan pelayanan, bukan semata pada pengelompokan administratif. 

Selain membahas reformasi rujukan, kuliah tamu ini juga menyoroti berbagai agenda perubahan lain, seperti Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), pembiayaan IDRG, pengembangan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, penguatan layanan prioritas, serta transformasi teknologi kesehatan. dr. Ockti menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara Good Hospital Governance dan Good Clinical Governance. Rumah sakit dituntut tidak hanya kuat dalam aspek manajerial dan keuangan, tetapi juga mampu menjamin mutu klinis, keselamatan pasien, dan akuntabilitas pelayanan. Oleh karena itu, indikator keuangan, operasional, klinis, mutu, produktivitas dokter, hingga utilisasi alat kesehatan perlu dipantau secara berkala sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih terukur. 

Dalam sesi diskusi, dr. Hanevi Djasri menekankan bahwa tantangan utama rumah sakit bukan hanya memahami regulasi, tetapi menerjemahkannya ke dalam keputusan strategis dan langkah operasional yang nyata. Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan dashboard dan sistem informasi agar data yang tersedia tidak berhenti sebagai kebutuhan administratif, melainkan benar-benar menjadi dasar evaluasi dan tindak lanjut. 

Secara keseluruhan, webinar ini menunjukkan bahwa perubahan regulasi rumah sakit di Indonesia merupakan bagian dari transformasi sistem kesehatan yang lebih luas. Arah pembahasan yang berkembang dalam forum ini, pada akhirnya bermuara pada upaya menghadirkan layanan kesehatan yang lebih bermutu, lebih merata, lebih responsif terhadap perkembangan teknologi, dan lebih bertanggung jawab kepada masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, pembahasan ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, terutama SDG 3: Good Health and Well-being, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, SDG 10: Reduced Inequalities, dan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions.

 

Reportase: Fadliana Rizky

Kasus Kepemimpinan Klinis dalam Mengurangi Kematian Dengue melalui Pendekatan Interprofesi

Departemen Health Policy and Management FK-KMK UGM menyelenggarakan seminar dengan tema kepemimpinan klinis dalam upaya menurunkan kematian dengue di tingkat kabupaten/kota. Seminar ini menekankan bahwa kematian dengue merupakan hasil interaksi antara faktor klinis dan kelemahan sistem, sehingga membutuhkan pendekatan interprofesi dan kepemimpinan lintas level layanan.

Pengantar: Kepemimpinan Klinis dalam Jejaring Sistem Kesehatan

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD

Prof. Laksono menegaskan bahwa kepemimpinan klinis tidak terbatas pada rumah sakit, tetapi harus menjangkau seluruh sistem rujukan. Pemimpin klinis berperan memastikan standar pelayanan yang konsisten dari pelayanan primer hingga rujukan lanjutan melalui pendekatan clinical governance.

Ia menekankan bahwa penurunan kematian dengue hanya dapat dicapai melalui jejaring kolaboratif lintas profesi dan lintas sektor, dengan tujuan bersama (shared goal) yaitu menurunkan kematian. Jejaring ini tidak bersifat hierarkis, melainkan berbasis koordinasi dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, dinas kesehatan, dan masyarakat.

Kepemimpinan Klinis Dokter Anak dalam Penanganan Dengue

Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, SpA(K)

Dr. Ida menjelaskan bahwa kepemimpinan klinis merupakan kompetensi inti dokter, terutama dalam kasus dengue yang bersifat dinamis dan dapat memburuk dengan cepat. Peran utama pemimpin klinis meliputi pengambilan keputusan berbasis bukti, koordinasi tim interprofesi, komunikasi efektif, serta pemantauan klinis ketat.

Dalam tatalaksana dengue, kunci penurunan fatalitas adalah deteksi dini fase kritis, ketepatan terapi cairan, serta rujukan yang tepat waktu. Selain itu, dokter sebagai clinical leader tidak hanya bekerja di dalam rumah sakit, tetapi juga berperan dalam edukasi, konsultasi lintas fasilitas, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan di lini depan.

Audit kematian dengue menjadi salah satu praktik penting dalam kepemimpinan klinis untuk mengidentifikasi kesenjangan diagnosis, tata laksana, dan sistem rujukan, serta sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.

Peran Dinas Kesehatan dalam Analisis dan Tindak Lanjut Kematian Dengue

Ari Kurniawati, MPH

Dinas Kesehatan DIY berperan dalam mengoordinasikan analisis kematian dengue melalui sistem audit kasus yang melibatkan rumah sakit, puskesmas, dan dokter ahli. Audit dilakukan untuk memastikan penyebab kematian, mengevaluasi kesesuaian tata laksana dengan standar, serta mengidentifikasi area perbaikan.

Data menunjukkan bahwa meskipun case fatality rate cenderung menurun, kematian akibat dengue masih terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, tindak lanjut difokuskan pada penguatan program penanggulangan dengue, termasuk peningkatan kualitas layanan klinis, surveilans, serta ketepatan rujukan.

Namun, terdapat berbagai tantangan, antara lain keterlambatan pelaporan kasus, belum optimalnya jejaring layanan (termasuk sektor swasta), keterbatasan kapasitas tenaga kesehatan, serta belum kuatnya koordinasi lintas sektor dan pembiayaan daerah. Strategi ke depan mengarah pada pendekatan komprehensif menuju zero death dengue 2030, melalui penguatan surveilans, manajemen kasus, pengendalian vektor, serta keterlibatan masyarakat.

Penutup

Seminar ini menegaskan bahwa penurunan kematian dengue memerlukan kepemimpinan klinis yang tidak hanya kuat di level pelayanan, tetapi juga mampu mengintegrasikan sistem secara menyeluruh. Kolaborasi interprofesi, penguatan jejaring rujukan, serta pembelajaran berbasis audit kematian menjadi kunci dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien.

Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), pembahasan ini berkontribusi langsung pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya penurunan kematian akibat penyakit menular dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi lintas profesi, sektor, dan institusi dalam sistem kesehatan.

Dengan demikian, kepemimpinan klinis menjadi fondasi strategis dalam mendorong sistem kesehatan yang lebih responsif, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta outcome kesehatan masyarakat.