
Dr. Diah Ayu Puspandari menyampaikan materi mengenai Addressing Health Equity Social Determinants, Financial Protection, and Strategic Health Financing pada The 20th Postgraduate Forum of Health Systems and Policies – International Hybrid Conference.
Dr. Diah Ayu Puspandari membuka sesi dengan menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, tiga zona waktu, ratusan kelompok etnis, serta kondisi sosial, ekonomi, dan geografis yang sangat beragam. Keragaman tersebut menyebabkan kebutuhan kesehatan, akses terhadap layanan, dan kapasitas sistem kesehatan berbeda di setiap wilayah. Oleh karena itu, pencapaian pemerataan kesehatan tidak dapat hanya mengandalkan pembiayaan kesehatan, tetapi juga harus mempertimbangkan berbagai social determinants of health seperti tingkat pendapatan, pendidikan, kondisi tempat tinggal, distribusi tenaga kesehatan, dan akses geografis terhadap pelayanan kesehatan.
Selanjutnya, narasumber memaparkan temuan National Health Accounts (NHA) Indonesia 2024 yang menunjukkan bahwa meskipun cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus meningkat dan pembiayaan publik semakin kuat, tantangan pemerataan kesehatan masih besar. Pengeluaran kesehatan masih didominasi oleh pelayanan rumah sakit dan penggunaan obat-obatan, sementara investasi pada pelayanan kesehatan primer, upaya promotif-preventif, dan pelayanan jangka panjang masih relatif rendah. Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM), serta tekanan pembiayaan akibat meningkatnya kebutuhan pelayanan rujukan.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Dr. Diah menekankan pentingnya strategic health financing melalui penyeimbangan kembali (rebalancing) investasi kesehatan. Pendekatan ini bukan berarti mengurangi investasi pada rumah sakit, melainkan mengarahkan tambahan investasi secara bertahap ke pelayanan primer, pencegahan penyakit, penguatan tenaga kesehatan, serta pelayanan jangka panjang. Selain itu, penguatan fungsi gatekeeping, penggunaan Health Technology Assessment (HTA), efisiensi pengadaan obat, dan pemanfaatan data National Health Accounts sebagai dasar pengambilan kebijakan dinilai penting untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih adil, berkelanjutan, dan tangguh.
Poin Penting dari Materi
- Keragaman Indonesia menjadikan social determinants of health sangat menentukan pemerataan kesehatan.
Indonesia memiliki karakteristik geografis dan sosial yang sangat beragam sehingga akses layanan kesehatan, kapasitas fasilitas kesehatan, dan kebutuhan masyarakat berbeda antarwilayah. Faktor-faktor sosial seperti kemiskinan, pendidikan, kondisi lingkungan, dan distribusi tenaga kesehatan memengaruhi status kesehatan masyarakat selain pelayanan medis. - JKN berhasil meningkatkan perlindungan finansial, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan kesenjangan kesehatan.
JKN telah memperluas akses pelayanan kesehatan dan mengurangi beban pengeluaran langsung masyarakat. Namun, ketimpangan masih terjadi karena adanya perbedaan distribusi fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta hambatan geografis yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui mekanisme asuransi kesehatan. - Struktur pembiayaan kesehatan Indonesia masih berorientasi pada pelayanan kuratif.
Data NHA 2024 menunjukkan bahwa sebagian besar pengeluaran kesehatan masih dialokasikan untuk rumah sakit, sementara investasi pada pelayanan primer dan kegiatan promotif-preventif masih terbatas. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban pembiayaan akibat meningkatnya penyakit kronis dan populasi lanjut usia. - Peningkatan kasus penyakit tidak menular dan populasi lansia menuntut perubahan strategi investasi kesehatan.
Pertumbuhan populasi lansia diikuti dengan meningkatnya klaim pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu, sistem kesehatan perlu memperkuat deteksi dini, pengelolaan penyakit kronis di pelayanan primer, serta pelayanan jangka panjang agar beban rumah sakit dapat dikendalikan.
- Strategic health financing harus berfokus pada pemerataan dan keberlanjutan.
Narasumber menekankan bahwa investasi baru sebaiknya diarahkan secara bertahap pada pelayanan primer, pencegahan penyakit, penguatan tenaga kesehatan, efisiensi penggunaan obat melalui HTA, serta penguatan pembiayaan di daerah yang masih tertinggal. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sistem kesehatan sekaligus mengurangi ketimpangan akses pelayanan.
Pembelajaran Utama / Key Takeaways
Sesi ini menekankan bahwa health equity tidak dapat dicapai hanya melalui perluasan pembiayaan kesehatan atau cakupan asuransi. Faktor-faktor sosial, ekonomi, geografis, dan kapasitas sistem kesehatan harus menjadi bagian dari perencanaan kebijakan. National Health Accounts memberikan bukti penting bahwa Indonesia perlu melakukan rebalancing investasi kesehatan dengan memperkuat pelayanan kesehatan primer, upaya promotif dan preventif, serta pelayanan jangka panjang tanpa mengurangi peran rumah sakit. Dengan strategi pembiayaan yang lebih berorientasi pada pemerataan, efisiensi, dan keberlanjutan, sistem kesehatan Indonesia diharapkan mampu memberikan hasil kesehatan yang lebih baik sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok masyarakat.
Reporter:
[Muhammad Hafiz Haunan]




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!