BreaK #50
Salam Sehat, Bapak/Ibu sobat BreaK…

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan acara mingguan BreaK (Bicara tentang Kualitatif) yang dilaksanakan via daring melalui aplikasi Zoom pada:

📆 Hari, tgl: Jumat, 25 November 2022
⏰ Pukul: 14.00-15.00 WIB
✏️ Topik: Klinik BreaK
Judul Penelitian: Eksplorasi Perspektif Spiritualitas Penyintas COVID-19: Study Mixed Method

👩🏼‍💼Narasumber: Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD
👩‍💻Moderator: Dr. Trisasi Lestari, M.Med.Sc

Silakan bergabung melalui link zoom di bawah ini:
💻 http://ugm.id/BicaratentangKualitatif2

Acara ini juga dapat diakses melalui platform:
📻 Aplikasi Raisa Radio di play store untuk android
🌐 Website radioindonesiasehat.com
🎥 Live Streaming (Youtube) channel *HPM FK UGM

Anda dapat mengakses:
1. Youtube Channel HPM FK UGM untuk Playlist BreaK
2. Website hpm.fk.ugm.ac.id dan instagram @hpm.ugm untuk update terkait agenda dan tema BreaK setiap minggunya

Episode BreaK Sebelumnya

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #67 “Closing 2023”

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #65 “Tips Wawancara”

Kasus Kepemimpinan Klinis dalam Mengurangi Kematian Dengue melalui Pendekatan Interprofesi

Departemen Health Policy and Management FK-KMK UGM menyelenggarakan seminar dengan tema kepemimpinan klinis dalam upaya menurunkan kematian dengue di tingkat kabupaten/kota. Seminar ini menekankan bahwa kematian dengue merupakan hasil interaksi antara faktor klinis dan kelemahan sistem, sehingga membutuhkan pendekatan interprofesi dan kepemimpinan lintas level layanan.

Pengantar: Kepemimpinan Klinis dalam Jejaring Sistem Kesehatan

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD

Prof. Laksono menegaskan bahwa kepemimpinan klinis tidak terbatas pada rumah sakit, tetapi harus menjangkau seluruh sistem rujukan. Pemimpin klinis berperan memastikan standar pelayanan yang konsisten dari pelayanan primer hingga rujukan lanjutan melalui pendekatan clinical governance.

Ia menekankan bahwa penurunan kematian dengue hanya dapat dicapai melalui jejaring kolaboratif lintas profesi dan lintas sektor, dengan tujuan bersama (shared goal) yaitu menurunkan kematian. Jejaring ini tidak bersifat hierarkis, melainkan berbasis koordinasi dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, dinas kesehatan, dan masyarakat.

Kepemimpinan Klinis Dokter Anak dalam Penanganan Dengue

Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, SpA(K)

Dr. Ida menjelaskan bahwa kepemimpinan klinis merupakan kompetensi inti dokter, terutama dalam kasus dengue yang bersifat dinamis dan dapat memburuk dengan cepat. Peran utama pemimpin klinis meliputi pengambilan keputusan berbasis bukti, koordinasi tim interprofesi, komunikasi efektif, serta pemantauan klinis ketat.

Dalam tatalaksana dengue, kunci penurunan fatalitas adalah deteksi dini fase kritis, ketepatan terapi cairan, serta rujukan yang tepat waktu. Selain itu, dokter sebagai clinical leader tidak hanya bekerja di dalam rumah sakit, tetapi juga berperan dalam edukasi, konsultasi lintas fasilitas, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan di lini depan.

Audit kematian dengue menjadi salah satu praktik penting dalam kepemimpinan klinis untuk mengidentifikasi kesenjangan diagnosis, tata laksana, dan sistem rujukan, serta sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.

Peran Dinas Kesehatan dalam Analisis dan Tindak Lanjut Kematian Dengue

Ari Kurniawati, MPH

Dinas Kesehatan DIY berperan dalam mengoordinasikan analisis kematian dengue melalui sistem audit kasus yang melibatkan rumah sakit, puskesmas, dan dokter ahli. Audit dilakukan untuk memastikan penyebab kematian, mengevaluasi kesesuaian tata laksana dengan standar, serta mengidentifikasi area perbaikan.

Data menunjukkan bahwa meskipun case fatality rate cenderung menurun, kematian akibat dengue masih terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, tindak lanjut difokuskan pada penguatan program penanggulangan dengue, termasuk peningkatan kualitas layanan klinis, surveilans, serta ketepatan rujukan.

Namun, terdapat berbagai tantangan, antara lain keterlambatan pelaporan kasus, belum optimalnya jejaring layanan (termasuk sektor swasta), keterbatasan kapasitas tenaga kesehatan, serta belum kuatnya koordinasi lintas sektor dan pembiayaan daerah. Strategi ke depan mengarah pada pendekatan komprehensif menuju zero death dengue 2030, melalui penguatan surveilans, manajemen kasus, pengendalian vektor, serta keterlibatan masyarakat.

Penutup

Seminar ini menegaskan bahwa penurunan kematian dengue memerlukan kepemimpinan klinis yang tidak hanya kuat di level pelayanan, tetapi juga mampu mengintegrasikan sistem secara menyeluruh. Kolaborasi interprofesi, penguatan jejaring rujukan, serta pembelajaran berbasis audit kematian menjadi kunci dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien.

Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), pembahasan ini berkontribusi langsung pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya penurunan kematian akibat penyakit menular dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi lintas profesi, sektor, dan institusi dalam sistem kesehatan.

Dengan demikian, kepemimpinan klinis menjadi fondasi strategis dalam mendorong sistem kesehatan yang lebih responsif, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta outcome kesehatan masyarakat.

 

📚 Webinar Pembahasan Buku “Learning Health System (LHS)” untuk Menguatkan Praktek Tenaga Medik dan Tenaga Kesehatan.

Praktek bagi tenaga medik (dokter dan dokter gigi) serta berbagai tenaga kesehatan membutuhkan peningkatan mutu. Kebutuhan ini memerlukan kesadaran akan proses pembelajaran. Konsep Learning Health System (LHS) hadir sebagai paradigma baru yang menekankan pentingnya siklus pengetahuan, dimulai dari pengumpulan data, analisis, penerapan kebijakan, hingga evaluasi, yang terus berulang untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan efektivitas kebijakan publik.

🎙 Narasumber:
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. selaku Guru Besar Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
dr. Likke Prawidya Putri, MPH., Ph.D. selaku Dosen dan Ketua Prodi Magister Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
🎤 Moderator: Lintang Kirana, S.I.Kom

🗓 Jumat, 27 Februari 2026
⏰ 13.00 – 14.30 WIB
📍 Auditorium Gedung Tahir Utara lt.1, FK-KMK UGM

📖Pembelian Buku: https://shopee.co.id/hpmbooks
Rekaman Video: https://youtu.be/cQCfJccZN50

Mari bergabung dan memperkaya perspektif kita mengenai kebijakan pembiayaan dan tantangan fragmentasi sistem kesehatan di Indonesia.

Rabu, 04 Maret 2026 — Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (HPM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan seminar nasional Clinical Leadership sesi 2 yang bertajuk “Memahami dan Menggunakan Konsep Learning Health System sebagai Bagian dari Sifat Kepemimpinan.” Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di Common Room Gd. Litbang FK-KMK UGM dan melalui platform Zoom, serta diikuti oleh dosen, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan praktisi layanan kesehatan dari berbagai daerah. Seminar dipandu oleh dr. Ichlasul Amalia, MPH selaku moderator yang memberikan pengantar bahwa sistem kesehatan saat ini berkembang sangat cepat dan semakin kompleks, sehingga pemimpin klinis tidak hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga kemampuan untuk membaca perubahan, menafsirkan data, serta mengambil keputusan yang relevan dengan dinamika sistem kesehatan. Konsep Learning Health System (LHS) menjadi salah satu pendekatan penting untuk memastikan sistem kesehatan mampu belajar secara berkelanjutan dari pengalaman, data, serta praktik pelayanan sehari-hari.

Sesi Pengantar: Memahami dan menggunakan konsep Learning Health System sebagai bagian dari sifat kepemimpinan — Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD

Pada sesi pengantar, Prof. Laksono Trisnantoro menjelaskan bahwa pembahasan mengenai Learning Health System merupakan bagian dari rangkaian seminar yang lebih luas mengenai reformasi sistem kesehatan dan pengembangan kepemimpinan klinis. Menurut beliau, transformasi sistem kesehatan tidak akan berjalan tanpa adanya pemimpin yang mampu mendorong perubahan dan membangun budaya pembelajaran dalam organisasi. Beliau menekankan bahwa pemimpin klinis bekerja dalam sistem kesehatan yang terus berkembang dan berubah. Oleh karena itu, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi karakter penting dalam kepemimpinan klinis. Dalam konteks ini, konsep Learning Health System menggambarkan sistem kesehatan yang secara aktif memanfaatkan pengalaman, data pelayanan, serta pengetahuan ilmiah untuk memperbaiki praktik pelayanan secara berkelanjutan. Prof. Laksono juga memperkenalkan konsep sensemaking, yaitu kemampuan pemimpin untuk memahami perubahan yang terjadi di lingkungan sistem kesehatan, menafsirkan makna perubahan tersebut, serta meresponsnya melalui keputusan dan tindakan yang tepat. Menurut beliau, pemimpin klinis tidak cukup hanya menjalankan prosedur pelayanan, tetapi juga perlu memahami dinamika sistem yang lebih luas, termasuk perubahan kebijakan kesehatan, perkembangan teknologi, serta kebutuhan masyarakat. Selain itu, beliau menyoroti bahwa proses pembelajaran dalam sistem kesehatan tidak hanya terjadi pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat tim, organisasi, dan bahkan antarorganisasi. Sistem kesehatan yang mampu belajar akan terus memperbaiki praktik pelayanan melalui proses refleksi, evaluasi pengalaman, serta inovasi yang berkelanjutan.

Beliau juga menekankan pentingnya tata kelola (governance) dalam mendukung proses pembelajaran dalam sistem kesehatan. Pembelajaran sistem kesehatan memerlukan kerja sama antara berbagai aktor, termasuk pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi, dan masyarakat. Tanpa kolaborasi antar pemangku kepentingan, proses pembelajaran sistem kesehatan akan terhambat dan sulit menghasilkan perubahan yang nyata.

Refleksi Buku LHS – Learning Loops dan peran individu dalam penatalaksanaan pasien — dr. Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D

Pada sesi pertama materi, dr. Likke Prawidya Putri menyampaikan refleksi mengenai konsep Learning Health System (LHS) dengan menyoroti peran individu dalam proses pembelajaran sistem kesehatan. Beliau menjelaskan bahwa dalam sistem kesehatan yang terus belajar, berbagai aktor dalam sistem mulai dari tenaga kesehatan, manajer rumah sakit, hingga pembuat kebijakan berperan dalam membangun proses pembelajaran kolektif untuk meningkatkan mutu pelayanan. Beliau memperkenalkan konsep learning loops, yaitu siklus pembelajaran yang menggambarkan bagaimana suatu sistem kesehatan belajar dari pengalaman pelayanan, data klinis, serta proses refleksi bersama. Dalam konsep ini, pembelajaran tidak hanya terjadi pada tingkat organisasi, tetapi juga dimulai dari praktik klinis sehari-hari yang dilakukan oleh individu tenaga kesehatan. dr. Likke menjelaskan bahwa terdapat beberapa tingkat pembelajaran dalam sistem kesehatan. Single-loop learning berfokus pada perbaikan tindakan atau prosedur yang dilakukan, misalnya melalui evaluasi apakah suatu tindakan klinis telah dilakukan sesuai standar atau protokol yang berlaku. Pada tahap ini, organisasi berupaya memperbaiki tindakan agar lebih efektif dalam mencapai hasil yang diharapkan.

Tahap berikutnya adalah double-loop learning, yaitu proses pembelajaran yang tidak hanya memperbaiki tindakan, tetapi juga mengevaluasi apakah prosedur atau kebijakan yang digunakan sudah tepat untuk mencapai tujuan pelayanan. Pada tahap ini, organisasi mulai mempertanyakan asumsi dan pendekatan yang digunakan dalam praktik pelayanan kesehatan. Selain itu, konsep terbaru dalam Learning Health System juga memperkenalkan triple-loop learning, yaitu pembelajaran yang lebih mendalam mengenai bagaimana organisasi belajar dan beradaptasi terhadap perubahan. Pada tahap ini, sistem kesehatan mengembangkan kemampuan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika lingkungan kesehatan yang terus berubah. Beliau juga menekankan bahwa pembelajaran dalam sistem kesehatan dapat terjadi pada berbagai level, mulai dari individu, tim pelayanan, organisasi, hingga lintas organisasi. Dalam praktik pelayanan kesehatan, pembelajaran individu sering terjadi melalui kegiatan seperti diskusi kasus, konferensi klinik, maupun pengembangan profesional berkelanjutan. Namun, agar pembelajaran tersebut berdampak pada perbaikan sistem pelayanan, proses tersebut perlu diintegrasikan dalam mekanisme pembelajaran organisasi. Dengan demikian, Learning Health System tidak hanya bergantung pada kemampuan individu untuk belajar, tetapi juga pada kemampuan organisasi untuk mengumpulkan pengalaman, menganalisis data, serta mengubah pembelajaran tersebut menjadi perbaikan sistem pelayanan secara berkelanjutan.

Peran pemimpin Klinis dalam menggerakkan Learning Health System di Layanan Kes Anak — Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, SpA(K)

Pada sesi berikutnya, dr. Ida Safitri Laksanawati membahas bagaimana pemimpin klinis berperan dalam menggerakkan Learning Health System di layanan kesehatan anak. Beliau menekankan bahwa pemimpin klinis tidak hanya berperan sebagai pengambil keputusan dalam praktik klinis, tetapi juga sebagai penggerak proses pembelajaran dalam tim pelayanan kesehatan. Dalam konteks pelayanan kesehatan anak, kompleksitas kasus sering kali menuntut kerja sama berbagai profesi kesehatan, mulai dari dokter spesialis anak, dokter umum, perawat, hingga tenaga kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pemimpin klinis memiliki peran penting dalam memastikan bahwa proses pelayanan tidak hanya berjalan sesuai prosedur, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi tim pelayanan. Beliau menjelaskan bahwa pemimpin klinis dapat mendorong Learning Health System melalui beberapa pendekatan, antara lain dengan memanfaatkan data pelayanan klinis sebagai sumber pembelajaran, membangun budaya refleksi terhadap praktik pelayanan, serta mendorong diskusi tim untuk mengidentifikasi peluang perbaikan mutu layanan.

Selain itu, pemimpin klinis juga berperan dalam memastikan bahwa pengalaman klinis yang terjadi di lapangan dapat diubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi organisasi. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai mekanisme pembelajaran seperti audit klinis, pembahasan kasus, maupun evaluasi pelayanan berbasis data. Dalam kerangka Learning Health System, pemimpin klinis juga berperan sebagai penghubung antara praktik klinis dan sistem manajemen pelayanan kesehatan. Dengan kepemimpinan yang reflektif dan kolaboratif, pemimpin klinis dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja yang mendukung perbaikan mutu berkelanjutan, keselamatan pasien, serta pengembangan kapasitas tim pelayanan kesehatan. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan Learning Health System tidak hanya bergantung pada ketersediaan data dan teknologi, tetapi juga pada kepemimpinan klinis yang mampu mendorong budaya belajar, kolaborasi antarprofesi, serta inovasi dalam praktik pelayanan kesehatan.

Sesi Diskusi & Tanya Jawab

Pada sesi diskusi, peserta menyoroti berbagai tantangan dalam membangun sistem kesehatan yang mampu belajar secara berkelanjutan. Salah satu tantangan yang muncul adalah bagaimana membangun budaya organisasi yang mendukung proses pembelajaran, terutama dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang sering kali dihadapkan pada tekanan pelayanan dan keterbatasan sumber daya. Diskusi juga menekankan pentingnya kepemimpinan klinis dalam mendorong proses pembelajaran tersebut. Pemimpin klinis memiliki peran strategis dalam menciptakan ruang refleksi bagi tim pelayanan, memanfaatkan data pelayanan sebagai sumber pembelajaran, serta mendorong inovasi dalam praktik pelayanan kesehatan. Selain itu, peserta juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas organisasi dalam sistem kesehatan. Pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam satu institusi, tetapi juga melalui kolaborasi antara rumah sakit, fasilitas pelayanan primer, pemerintah daerah, serta institusi pendidikan kesehatan.

Sesi Penutup

Seminar ini menegaskan bahwa Learning Health System merupakan pendekatan penting dalam kepemimpinan klinis di era transformasi sistem kesehatan. Sistem kesehatan yang mampu belajar dari pengalaman, data pelayanan, dan praktik klinis akan lebih adaptif dalam menghadapi perubahan serta mampu meningkatkan mutu pelayanan secara berkelanjutan. Melalui penguatan kepemimpinan klinis yang berbasis pembelajaran, organisasi pelayanan kesehatan diharapkan dapat mengembangkan budaya refleksi, inovasi, dan perbaikan mutu yang terus menerus. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kegiatan ini berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan berbasis pembelajaran, SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan kapasitas kepemimpinan klinis, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam sistem kesehatan.

 

Reporter:

Fadliana Hidayatu Rizky Uswatun Hasanah, S.Tr.Keb, Bdn. MHPM