BreaK #50
Salam Sehat, Bapak/Ibu sobat BreaK…

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan acara mingguan BreaK (Bicara tentang Kualitatif) yang dilaksanakan via daring melalui aplikasi Zoom pada:

📆 Hari, tgl: Jumat, 25 November 2022
⏰ Pukul: 14.00-15.00 WIB
✏️ Topik: Klinik BreaK
Judul Penelitian: Eksplorasi Perspektif Spiritualitas Penyintas COVID-19: Study Mixed Method

👩🏼‍💼Narasumber: Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD
👩‍💻Moderator: Dr. Trisasi Lestari, M.Med.Sc

Silakan bergabung melalui link zoom di bawah ini:
💻 http://ugm.id/BicaratentangKualitatif2

Acara ini juga dapat diakses melalui platform:
📻 Aplikasi Raisa Radio di play store untuk android
🌐 Website radioindonesiasehat.com
🎥 Live Streaming (Youtube) channel *HPM FK UGM

Anda dapat mengakses:
1. Youtube Channel HPM FK UGM untuk Playlist BreaK
2. Website hpm.fk.ugm.ac.id dan instagram @hpm.ugm untuk update terkait agenda dan tema BreaK setiap minggunya

Episode BreaK Sebelumnya

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #67 “Closing 2023”

BreaK (Bicara tentang Kualitatif) #65 “Tips Wawancara”

Kamis, 13 Agustus 2026 — Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan bersama Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM menyelenggarakan Sosialisasi Ketahanan Iklim pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer di FK-KMK UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari workshop “Kesiapan Implementasi Penilaian Ketahanan Iklim Fasilitas Kesehatan Primer” yang melibatkan 44 Puskesmas rentan bencana di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Gunungkidul. Kegiatan dilaksanakan oleh tim yang diketuai Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H., bersama Dr. Daniel, M.Sc., Daffa Taufiqulhakim, A.Md.Kes., S.KL., dan Fadliana Hidayatu Rizky U.H., M.H.P.M. Peserta memperoleh pemaparan mengenai perubahan iklim dan ketahanan fasilitas kesehatan, pengenalan instrumen CRESHCF, serta pendampingan pengisian instrumen. Data yang terkumpul diharapkan memberikan gambaran awal mengenai kesiapan Puskesmas menghadapi risiko perubahan iklim dan menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan.

Perubahan Iklim dan Ketahanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer — Dr. Daniel, M.Sc. 

Dalam pemaparannya, Dr. Daniel, M.Sc. menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pelayanan kesehatan. Peningkatan suhu, banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem dapat mengubah pola penyakit, meningkatkan kebutuhan pelayanan, serta mengganggu akses menuju Puskesmas, infrastruktur, pasokan air dan listrik, hingga ketersediaan obat dan vaksin. Sebagai fasilitas kesehatan terdekat dengan masyarakat, Puskesmas harus mampu mengantisipasi, merespons, dan pulih dari gangguan tanpa kehilangan fungsi pelayanan utama. Oleh karena itu, penguatan ketahanan iklim perlu mencakup kesiapan tenaga kesehatan, infrastruktur, pasokan sumber daya, dan prosedur kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan risiko serta kondisi lokal setiap Puskesmas. 

Pengenalan Instrumen CRESHCF — Lusha Ayu Astari, SKM., MPH 

Pada sesi berikutnya, Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H. menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan memperoleh gambaran awal kesiapan Puskesmas di DIY dalam menghadapi risiko perubahan iklim sekaligus menilai penerapan instrumen CRESHCF di pelayanan kesehatan primer. Hasilnya diharapkan dapat mengidentifikasi kekuatan, kesenjangan, dan kebutuhan intervensi sebagai masukan bagi Puskesmas, dinas kesehatan, serta pemerintah daerah dalam menyusun strategi penguatan fasilitas kesehatan yang adaptif dan berkelanjutan. Peserta kemudian diperkenalkan dengan instrumen Climate-Resilient and Environmentally Sustainable Healthcare Facility (CRESHCF) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Instrumen ini menilai empat pilar, yaitu sumber daya manusia; air, sanitasi, dan higiene (WASH); energi dan infrastruktur; serta manajemen dan kesiapsiagaan pelayanan. Keempatnya saling berkaitan dan perlu dipandang sebagai satu kesatuan sistem. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai kerahasiaan data, proses informed consent, dan teknis pengisian instrumen agar hasilnya mencerminkan kondisi aktual setiap Puskesmas.

Pengisian Instrumen CRESHCF dan Pendampingan Peserta

Setelah sesi pemaparan dan tanya jawab, peserta mengisi instrumen CRESHCF secara bertahap dengan pendampingan Daffa Taufiqulhakim, A.Md.Kes., S.KL., dan Fadliana Hidayatu Rizky U.H., M.H.P.M. Pendampingan dilakukan untuk menyamakan pemahaman terhadap indikator dan memastikan jawaban menggambarkan kondisi aktual setiap Puskesmas. Penilaian tidak hanya mempertimbangkan keberadaan sarana, dokumen, atau prosedur, tetapi juga kesiapan dan fungsinya ketika terjadi gangguan. Misalnya, sumber energi cadangan dinilai dari kapasitas dan keberlanjutan operasionalnya, sedangkan dokumen kesiapsiagaan dilihat dari sosialisasi, pelaksanaan simulasi, dan pembaruannya. Proses ini sekaligus membantu peserta mengenali kekuatan dan area yang masih perlu diperbaiki dalam aspek sumber daya manusia, WASH, energi dan infrastruktur, serta manajemen kesiapsiagaan.

Penyampaian Hasil Awal dan Diskusi: Mengidentifikasi Kesiapan serta Kesenjangan Puskesmas

Setelah pengisian instrumen selesai, tim melakukan pengolahan awal dan menyampaikan gambaran hasil pengisian kepada peserta. Sesi ini dipandu oleh Dr. Daniel, M.Sc bersama Lusha Ayu Astari, SKM., MPH., serta menjadi ruang untuk membahas perbedaan kapasitas, kerentanan, dan risiko iklim yang dihadapi masing-masing Puskesmas. Hasil awal dari 44 Puskesmas menunjukkan bahwa kapasitas fasilitas kesehatan secara umum tergolong baik. Sebanyak 35 Puskesmas (79,5%) berada pada kategori kapasitas tinggi dan sembilan Puskesmas (20,5%) pada kategori sedang. Energi memperoleh skor kapasitas tertinggi (79,8%), sedangkan WASH yang mencakup air, sanitasi, dan higiene memperoleh skor terendah (70,9%) serta menjadi prioritas penguatan pada 23 Puskesmas (52,3%). Pada aspek kerentanan, sumber daya manusia menjadi area yang paling memerlukan perhatian, yaitu pada 31 Puskesmas (70,5%). Bahaya iklim yang paling banyak dilaporkan adalah badai atau puting beliung (61,4%), diikuti kekeringan (54,5%) dan banjir (38,6%). Meskipun badai atau puting beliung paling sering dilaporkan, kekeringan menjadi bahaya dengan dampak tertinggi pada hampir separuh Puskesmas yang dianalisis. Temuan ini menunjukkan bahwa setiap Puskesmas menghadapi risiko yang berbeda sesuai kondisi geografis, infrastruktur, ketersediaan air dan energi, kapasitas tenaga kesehatan, serta dukungan sumber daya di wilayahnya. Diskusi menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pelayanan esensial ketika terjadi gangguan, termasuk pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, pengendalian penyakit, pelayanan kegawatdaruratan, serta ketersediaan obat dan vaksin. Karena itu, Puskesmas memerlukan pemetaan risiko, penentuan pelayanan prioritas, prosedur kedaruratan, sumber air dan energi alternatif, sistem rujukan, serta mekanisme komunikasi yang jelas. Penguatan sumber daya manusia juga perlu dilakukan melalui pelatihan, pembagian tanggung jawab, simulasi, dan evaluasi kesiapsiagaan. Penguatan ketahanan iklim tidak dapat dibebankan hanya kepada pemegang program kesehatan lingkungan. Upaya ini membutuhkan keterlibatan pimpinan Puskesmas, tenaga klinis, pengelola sarana dan prasarana, farmasi, surveilans, promosi kesehatan, serta koordinasi dengan dinas kesehatan, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor terkait lainnya.

Penutup: Membangun Fasilitas Kesehatan Primer yang Adaptif dan Berkelanjutan 

Kegiatan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan dan pengelolaan pelayanan kesehatan primer. Melalui instrumen CRESHCF, Puskesmas dapat mengidentifikasi kesiapan, kekuatan, dan kesenjangan sebagai dasar untuk menentukan prioritas perbaikan, memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, serta menjaga kesinambungan pelayanan saat menghadapi risiko iklim. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan keberlangsungan pelayanan kesehatan; SDG 6: Clean Water and Sanitation melalui penguatan akses air bersih, sanitasi, dan higiene; SDG 7: Affordable and Clean Energy melalui peningkatan keandalan serta keberlanjutan energi fasilitas kesehatan; dan SDG 13: Climate Action melalui penguatan kapasitas adaptasi sektor kesehatan terhadap perubahan iklim. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, Puskesmas, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi tersedianya data dasar yang dapat digunakan dalam penyusunan kebijakan ketahanan iklim sektor kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada akhirnya, fasilitas kesehatan primer yang tangguh terhadap perubahan iklim merupakan prasyarat penting untuk memastikan bahwa masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berkesinambungan dalam berbagai situasi. 

 

Reporter 

Fadliana Hidayatu Rizky U.H., MHPM

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas jangka panjang di Indonesia. Di sisi lain, pemanfaatan data klinis untuk peningkatan mutu layanan dan penelitian masih menghadapi tantangan karena dokumentasi yang beragam, naratif, dan belum terstruktur. Kondisi tersebut membatasi integrasi serta pemanfaatan rekam medis untuk analitik, penelitian, maupun pengembangan sistem prediktif berbasis kecerdasan artifisial. Standardisasi data klinis menjadi salah satu fondasi penting agar data yang dihasilkan dalam pelayanan sehari-hari dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Foto bersama peserta workshop

Sebagai bagian dari Hibah Dana Masyarakat Pengabdian kepada Masyarakat Skema Hibah Abdimas Terintegrasi FKKMK UGM, tim Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM menyelenggarakan Technical Workshop: Preparing Stroke Data for OMOP CDM pada Kamis, 30 Juli 2026 bertempat di Ruang Selasar Auditorium Kresna, Lantai 5, Rumah Sakit Akademik UGM. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Standardisasi Catatan Klinis bagi Tenaga Kesehatan untuk Mendukung Transformasi Digital Layanan Stroke di Rumah Sakit Anggota Academic Health System (AHS) UGM” ini sekaligus menjadi bagian dari aktivitas Digital Twin Stroke Care Network, jejaring kolaborasi antara mitra di United Kingdom, Indonesia, dan Vietnam untuk mendorong pemanfaatan data kesehatan, transformasi digital, dan inovasi berbasis AI dalam peningkatan layanan stroke. Kegiatan ini juga mendukung kolaborasi transnasional UK-Indonesia-Vietnam yang sedang dikembangkan bersama FKKMK UGM dan RSA UGM.

Workshop diikuti oleh sekitar 36 peserta dari berbagai profesi dan institusi yang terlibat dalam pelayanan, pengelolaan data, dan penelitian stroke. Dari RSA UGM, peserta mencakup dokter layanan stroke, perawat unit stroke, ahli gizi, fisioterapis, petugas rekam medis, peneliti dan data manager Clinical Research Unit (CRU), serta tim IT SIMRS. Kegiatan ini juga melibatkan peserta dari Departemen Neurologi FKKMK UGM, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM, serta STIKES Bethesda Yakkum. Keterlibatan lintas profesi dan institusi ini menjadi penting karena kualitas data klinis tidak hanya ditentukan oleh sistem informasi, tetapi dibangun sejak data dicatat dalam proses pelayanan, dikelola dalam rekam medis, hingga dimanfaatkan kembali untuk evaluasi mutu dan penelitian.

Kegiatan diawali dengan kuliah pembuka “Membangun Ekosistem Data Stroke untuk Mendukung Mutu Layanan Rumah Sakit” oleh dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., yang memberikan gambaran strategis mengenai pemanfaatan data kesehatan untuk peningkatan mutu, penelitian, dan inovasi digital. Selanjutnya, Annisa Ristya Rahmanti, S.Gz., Dietisien, MS., Ph.D. selaku ketua pelaksana menyampaikan pengantar mengenai tujuan dan luaran workshop. Kegiatan ini secara khusus melibatkan narasumber dari RSA UGM agar proses standardisasi berangkat dari kebutuhan dan kondisi nyata pelayanan. dr. Farida Niken Astari Nugroho Hati, M.Sc., Sp.N. menyampaikan perspektif klinis mengenai kebutuhan data dan indikator mutu stroke, termasuk NIHSS, mRS, dan luaran pasien; dr. Nimitta Talirasa memaparkan praktik dokumentasi dan tata kelola data stroke; sedangkan Firza Aditya Primandani, S.Kom. membahas sumber data, rekam medis elektronik, serta integrasi sistem informasi pendukung layanan stroke di RSA UGM.

Untuk menghubungkan kebutuhan di tingkat rumah sakit dengan standardisasi data yang memungkinkan kolaborasi lintas institusi dan lintas negara, workshop dilaksanakan dengan dukungan jejaring Observational Health Data Sciences and Informatics (OHDSI), termasuk kolaborasi dengan OHDSI Taiwan. Dalam rangkaian kegiatan, apt. Christianus Heru Setiawan, M.Sc. memperkenalkan ekosistem OHDSI dan pemanfaatan OMOP Common Data Model (OMOP CDM) untuk mendukung harmonisasi dan penelitian berbasis data kesehatan. Workshop tidak hanya berupa paparan, tetapi dilanjutkan dengan sesi praktik. dr. Daniel CA Nugroho, MPH memandu Group Exercise: Defining the Minimum Stroke Dataset, di mana peserta bersama-sama mengidentifikasi variabel yang dibutuhkan untuk pelayanan, registri, penelitian, dan pengembangan AI. Selanjutnya, M. Solihuddin Muhtar, MBA memandu sesi Understanding How Stroke Variables Map to OMOP melalui pengenalan domain OMOP dan simulasi pemetaan variabel stroke. Dari proses tersebut, peserta mulai merumuskan komponen minimum stroke dataset yang mencakup data administratif, onset dan alur kegawatan, kondisi klinis dan derajat stroke, pemeriksaan penunjang, terapi, serta luaran pasien. Setiap variabel selanjutnya perlu memiliki definisi operasional, format nilai, sumber data, dan penanggung jawab pengisian agar dataset dapat diterapkan secara konsisten dalam praktik.

Pada akhir kegiatan, apt. Christianus Heru Setiawan, M.Sc. memandu penyusunan rencana tindak lanjut menuju pengembangan data stroke terstandar dan kesiapan OMOP CDM di RSA UGM. Hasil workshop akan ditindaklanjuti melalui pembentukan tim kecil yang melibatkan unsur klinis, rekam medis, IT, dan tim peneliti untuk memfinalisasi minimum stroke dataset serta mempersiapkan tata kelola kolaborasi, termasuk penyusunan Data Sharing Agreement (DSA) sebagai dasar pemanfaatan data untuk kegiatan pengembangan dan penelitian bersama. Tahapan berikutnya diarahkan pada data profiling, pemetaan terminologi, dan penyusunan rancangan Extract, Transform, Load (ETL) menuju OMOP CDM. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan RSA UGM untuk berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif berbasis data, dengan tetap menempatkan rumah sakit sebagai pemilik data dan proses.

Penyampaian materi workshop

Sesi Diskusi bersama fasilitator 1

Sesi Diskusi bersama fasilitator 2

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan pada September–Oktober 2026 melalui pengembangan video pembelajaran Massive Open Online Course (MOOC) mengenai standardisasi data kesehatan dan OMOP CDM. Materi ini diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan kepada tenaga kesehatan dan pengelola data lainnya di lingkungan AHS UGM. Melalui sinergi antara program Damas Abdimas FKKMK UGM, RSA UGM, jejaring OHDSI, serta DT Stroke Care Network UK–Indonesia–Vietnam, workshop ini menjadi langkah awal dari proses pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas SDM, tata kelola, dan kesiapan data menuju ekosistem data stroke yang lebih terstandar dan interoperabel serta mendukung peningkatan mutu layanan dan penelitian kolaboratif lintas institusi dan negara.

Senin, 27 Juli 2026.

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Penguatan Fitur AI dan Simulasi Interoperabilitas Personal Health Records (NusaCare) dengan Sistem Informasi Fasilitas Kesehatan pada hari Senin, 27 Juli 2026 di Ruang HPM, Gedung IKM, FKKMK UGM. Workshop ini membahas terkait integrasi data kesehatan melalui NusaCare dan pengembangan fitur AI untuk mendukung prediksi risiko diabetes melitus. Workshop dihadiri tim peneliti, programmer, tim Research and Development Digital Health Innovation Studio, dan asisten peneliti dengan total keseluruhan yang hadir 11 orang.

Pembahasan pertama terkait “Diskusi Bisnis Proses Pertukaran Data” dibuka oleh Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH. Pada sesi ini membahas terkait alur pertukaran data yang dibutuhkan dalam integrasi aplikasi NusaCare dengan sistem layanan kesehatan berbasis komunitas dan primer. Pembahasan ini menjadi bagian penting supaya data kesehatan dapat dapat dipertukarkan dan digunakan secara aman dan konsisten antara berbagai sistem.

Sesi selanjutnya diisi dengan materi “Simulasi Pertukaran Data” yang disampaikan oleh Hendri Kurniawan Prakosa, S.Kom., M.Cs. Pada sesi ini dilakukan pengujian melalui simulasi integrasi antara PHR NusaCare, sistem Posbindu, dan Sistem Informasi Puskesmas. Simulasi ini berisi pengujian alur pertukaran data, validasi struktur dan isi data, serta evaluasi fungsionalitas sistem dalam skenario pelayanan kesehatan dari komunitas sampai rujukan.

Materi terakhir diisi dengan “Mapping Variabel AI untuk Prediksi Diabetes Melitus” yang disampaikan oleh Annisa Ristya Rahmanti, MS, Ph.D, Dietisien dan Sensa Gudya Sauma Syahra, S.Kom., M.Cs. Pada sesi ini membahas terkait pemetaan variabel yang relevan dalam aplikasi dengan public dataset, termasuk data The Indonesia Family Life Survey (IFLS) sebagai salah satu sumber data yang digunakan untuk kebutuhan training model. Hal ini dilakukan untuk mendukung pengembangan model stratifikasi risiko diabetes melitus.

Workshop ini kemudian ditutup dengan diskusi secara keseluruhan. Workshop menjadi bagian dari proses pengembangan dan pengujian aplikasi NusaCare untuk mendukung pemanfaatan data kesehatan yang lebih terintegrasi. Agenda lanjutan dari workshop ini adalah pengenalan aplikasi NusaCare pada pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan primer dan berbasis komunitas.

 

Reportase: Aisya Fa’iq Nariswari Putri, S.Gz., Dietisien